Eksplorindonesia.com – Banyak orang mengira keberhasilan konservasi satwa liar ditentukan oleh luasnya kawasan hutan, besarnya anggaran, atau kecanggihan teknologi penelitian. Namun di Desa Cipaganti, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, jawabannya jauh lebih sederhana.
Konservasi berhasil karena masyarakat memilih untuk menjaga alamnya.
Di desa yang berada di lereng Gunung Papandayan ini, keberadaan Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) tidak pernah dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, satwa nokturnal yang kini berstatus Kritis (Critically Endangered) itu telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama bergenerasi.
Jauh sebelum istilah konservasi diperkenalkan, masyarakat Cipaganti telah memiliki aturan tidak tertulis yang diwariskan para leluhur.
Anak-anak diajarkan untuk tidak menangkap kukang.
Orang tua mengingatkan agar pepohonan tempat kukang hidup tidak ditebang sembarangan.
Masyarakat percaya bahwa merusak habitat kukang dapat mendatangkan musibah.
Nilai-nilai tersebut diwariskan bukan melalui buku, melainkan melalui cerita, petuah, dan pengalaman hidup.
Kini, para ilmuwan menyebutnya sebagai kearifan lokal.
Ketika masyarakat menjadi garda terdepan
Keberhasilan konservasi di Cipaganti sesungguhnya tidak dimulai ketika peneliti asing datang.
Konservasi telah hidup di tengah masyarakat jauh sebelumnya.
Ketika Little Fireface Project (LFP) memulai penelitian jangka panjang di Cipaganti pada 2011, salah satu modal terbesarnya adalah masyarakat yang masih menjaga habitat Kukang Jawa. Karena itu, pendekatan yang dipilih bukan mengambil alih peran warga, melainkan memperkuat apa yang sudah mereka lakukan melalui pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan.
Tokoh-tokoh lokal seperti Janjan dan Dedi kemudian menjadi jembatan antara masyarakat dengan para ilmuwan.
Mereka mendampingi penelitian.
Mereka menjaga habitat.
Mereka mengenalkan peneliti kepada warga.
Mereka memastikan bahwa penelitian berjalan selaras dengan kehidupan masyarakat.
Kebun kopi sebagai benteng konservasi
Yang menarik, rumah bagi Kukang Jawa di Cipaganti bukan hanya kawasan hutan.
Sebagian besar justru berada di kebun-kebun kopi milik masyarakat.
Sistem agroforestri (talun) yang telah dipraktikkan turun-temurun mempertahankan pepohonan penaung di antara tanaman kopi.
Pepohonan itulah yang menjadi jalur jelajah, tempat mencari makan, sekaligus lokasi tidur kukang.
Ketika petani mempertahankan pohon-pohon tersebut demi menjaga kualitas kopi, tanpa disadari mereka juga sedang menjaga habitat satwa liar. Hubungan inilah yang kemudian menjadi dasar pengembangan program Wildlife Friendly Coffee bersama sekitar 400 petani di Cipaganti dan Pangauban.
Konservasi yang memberi manfaat
Banyak program konservasi gagal karena masyarakat hanya diminta menjaga alam tanpa memperoleh manfaat.
Cipaganti memilih jalan berbeda.
Melalui program Wildlife Friendly Coffee, petani memperoleh pelatihan budidaya organik, pengurangan pestisida kimia, peningkatan kualitas pascapanen, hingga akses pasar yang lebih baik.
Pada 2020, kopi Cipaganti memperoleh sertifikasi Wildlife Friendly®, salah satu pengakuan internasional bagi produk yang mendukung pelestarian satwa liar sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kini kopi tersebut bahkan dipasarkan hingga ke Inggris sebagai kopi spesialti yang membawa misi konservasi.
Dengan demikian, menjaga kukang bukan lagi dianggap sebagai beban.
Sebaliknya, konservasi justru memberi nilai tambah terhadap hasil pertanian masyarakat.
Pendidikan dimulai dari anak-anak
Little Fireface Project juga memahami bahwa masa depan konservasi berada di tangan generasi muda.
Karena itu, organisasi ini mengembangkan berbagai program pendidikan lingkungan seperti Nature Club, kegiatan belajar mengenai satwa liar, ekologi, dan pentingnya menjaga alam.
Anak-anak dikenalkan langsung dengan kekayaan hayati di kampung mereka sendiri.
Mereka diajak bangga karena tinggal di desa yang menjadi rumah Kukang Jawa.
Pendekatan ini melahirkan rasa memiliki terhadap alam sejak usia dini, sehingga konservasi tidak berhenti pada satu generasi saja.
Dunia belajar dari Cipaganti
Selama bertahun-tahun, berbagai peneliti dari Indonesia maupun luar negeri datang ke Cipaganti.
Mereka mempelajari Kukang Jawa.
Namun pada saat yang sama, mereka juga mempelajari masyarakatnya.
Bagaimana sebuah komunitas mampu mempertahankan hubungan harmonis dengan alam.
Bagaimana tradisi lokal mampu memperkuat ilmu pengetahuan modern.
Bagaimana konservasi dapat berjalan berdampingan dengan kegiatan ekonomi.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bahan berbagai publikasi ilmiah internasional mengenai konservasi berbasis masyarakat.
Sebuah pelajaran dari lereng Papandayan
Di tengah meningkatnya kerusakan lingkungan di berbagai daerah, Cipaganti menawarkan sebuah pelajaran sederhana.
Konservasi tidak selalu dimulai dari pagar kawasan, patroli, atau larangan.
Konservasi dimulai dari rasa memiliki.
Dari keyakinan bahwa hutan bukan sekadar sumber kayu.
Bahwa satwa liar bukan sekadar penghuni hutan.
Bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem yang sama.
Inilah yang membuat Cipaganti berbeda.
Keberhasilan desa ini bukan semata karena memiliki Kukang Jawa.
Tetapi karena memiliki masyarakat yang memilih untuk menjaganya.
Dan selama masyarakat tetap menjadi penjaga pertama alamnya, harapan bagi Kukang Jawa akan selalu ada. (*)
Atribusi: Artikel ini disusun berdasarkan informasi lapangan dari pengelola kawasan konservasi Kukang Jawa di Desa Cipaganti, publikasi Little Fireface Project, serta berbagai hasil penelitian mengenai konservasi berbasis masyarakat dan program Wildlife Friendly Coffee di Cipaganti.
