Jejak Para Ilmuwan di Cipaganti: Dari Skripsi Mahasiswa hingga Riset Kelas Dunia

Eksplorindonesia.com – Ketika matahari terbenam di Desa Cipaganti, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, aktivitas sebagian besar warga mulai berakhir. Namun, bagi para peneliti Kukang Jawa, malam justru menjadi awal pekerjaan.

Dengan antena radio telemetry di tangan, senter berkepala merah, GPS, kamera, buku catatan, hingga alat perekam suara ultrasonik, mereka menyusuri kebun kopi dan kawasan talun. Mereka mengikuti pergerakan Kukang Jawa dari senja hingga menjelang fajar.

Pemandangan seperti itu telah menjadi rutinitas di Cipaganti selama lebih dari satu dekade.

Desa kecil di lereng Gunung Papandayan ini telah menjelma menjadi salah satu laboratorium alam paling penting untuk penelitian Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) di dunia. Sejak Little Fireface Project (LFP) mendirikan stasiun penelitiannya pada 2011, kawasan ini menjadi lokasi penelitian jangka panjang terhadap populasi Kukang Jawa liar.

Dari mahasiswa hingga profesor

Keistimewaan Cipaganti bukan hanya karena menjadi lokasi penelitian ilmuwan internasional. Desa ini juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa Indonesia.

Setiap tahun, mahasiswa program sarjana, magister, hingga doktor datang untuk menyusun skripsi, tesis, maupun disertasi.

Nama-nama perguruan tinggi yang pernah melakukan penelitian di Cipaganti sangat beragam, di antaranya IPB University, Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Universitas Negeri Jakarta, serta sejumlah perguruan tinggi lainnya.

Bahkan, kolaborasi penelitian juga melibatkan Oxford Brookes University di Inggris dan berbagai institusi internasional yang bekerja sama melalui Little Fireface Project.

Penelitian yang tidak pernah berhenti

Yang membuat Cipaganti istimewa adalah kesinambungan penelitian.

Berbeda dengan banyak lokasi penelitian yang hanya berlangsung beberapa bulan, pemantauan Kukang Jawa di Cipaganti dilakukan secara terus-menerus selama bertahun-tahun.

Melalui identifikasi individu, pemasangan radio collar sesuai standar etik, pemantauan perilaku malam hari, hingga penggunaan kamera jebak dan perekam akustik, para peneliti berhasil membangun salah satu kumpulan data jangka panjang mengenai Kukang Jawa liar. Data tersebut digunakan untuk memahami perilaku, pola ruang, reproduksi, komunikasi, hingga dampak perubahan lanskap terhadap satwa.

Melahirkan puluhan karya ilmiah

Selama lebih dari satu dekade, Cipaganti telah menjadi sumber lahirnya puluhan karya ilmiah.

Beberapa topik penelitian yang pernah dilakukan di antaranya:

  • perilaku makan Kukang Jawa;
  • pemilihan pohon tidur;
  • penggunaan habitat agroforestri;
  • pola aktivitas malam;
  • struktur sosial dan perilaku bermain;
  • vokalisasi atau komunikasi suara;
  • penggunaan koridor tajuk buatan;
  • dampak suhu terhadap perilaku;
  • hubungan antara pertanian dan konservasi;
  • pendidikan konservasi berbasis masyarakat.

Pada 2024, misalnya, penelitian dari IPB University berhasil mengidentifikasi beberapa tipe vokalisasi Kukang Jawa di Stasiun Penelitian Little Fireface Project, bahkan menemukan satu bentuk vokalisasi yang berpotensi belum pernah dideskripsikan sebelumnya.

Penelitian lain yang banyak dikutip adalah pembangunan jembatan kanopi untuk menghubungkan pohon-pohon yang terputus akibat aktivitas manusia. Hasilnya menunjukkan bahwa Kukang Jawa memanfaatkan jembatan tersebut sehingga konektivitas habitat meningkat tanpa harus turun ke tanah yang lebih berisiko. Penelitian ini menjadi salah satu rujukan internasional dalam mitigasi fragmentasi habitat primata.

Belajar langsung dari alam

Tidak semua pembelajaran dilakukan di ruang kuliah.

Di Cipaganti, mahasiswa belajar membaca jejak satwa, mengenali jenis pohon pakan, mengoperasikan radio telemetry, memasang kamera jebak, mengidentifikasi perilaku satwa liar, hingga berinteraksi dengan masyarakat yang selama puluhan tahun hidup berdampingan dengan kukang.

Bagi banyak mahasiswa, pengalaman tersebut menjadi pelajaran yang tidak mungkin diperoleh hanya dari buku.

Pengetahuan lokal yang menjadi bagian dari penelitian

Hal menarik lainnya adalah kuatnya kolaborasi antara ilmuwan dan masyarakat.

Tokoh-tokoh lokal seperti Janjan dan Dedi tidak hanya berperan sebagai pendamping lapangan.

Mereka juga menjadi sumber pengetahuan mengenai perubahan habitat, lokasi pohon tidur, jalur jelajah kukang, hingga sejarah kawasan.

Pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun itu sering kali menjadi titik awal bagi penelitian ilmiah.

Di Cipaganti, ilmu pengetahuan modern tidak menggantikan kearifan lokal, melainkan melengkapinya.

Peneliti dari berbagai negara

Selain akademisi Indonesia, Cipaganti juga menerima peneliti dan relawan dari Inggris, Italia, India, Malaysia, Jepang, Belanda, Australia, dan berbagai negara lainnya.

Saat ini, seorang peneliti asal Italia, Leonardo, sedang menyelesaikan penelitian doktoralnya mengenai Kukang Jawa di Cipaganti.

Kehadiran peneliti dari berbagai negara memperlihatkan bahwa desa ini telah menjadi bagian dari jejaring penelitian konservasi internasional.

Dari Garut untuk dunia

Banyak temuan yang lahir dari Cipaganti kini menjadi rujukan dalam pengelolaan habitat Kukang Jawa, pendidikan konservasi, hingga pengembangan lanskap agroforestri ramah satwa liar.

Nama Cipaganti pun berkali-kali tercantum dalam publikasi ilmiah internasional, memperkenalkan sebuah desa di Kabupaten Garut kepada komunitas ilmiah dunia.

Semua itu berawal dari sesuatu yang sederhana: masyarakat yang memilih menjaga alamnya.

Tanpa hutan kecil yang tetap dipertahankan, tanpa kebun kopi yang masih menyisakan pepohonan penaung, tanpa kearifan lokal yang melarang perburuan kukang, mungkin tidak akan pernah ada laboratorium alam bernama Cipaganti.

Di desa inilah, ilmu pengetahuan dan tradisi berjalan berdampingan. Setiap malam, ketika para peneliti menyalakan antena radio dan mengikuti jejak kukang di bawah cahaya bulan, mereka sesungguhnya sedang melanjutkan sebuah cerita panjang—cerita tentang bagaimana sebuah kampung kecil di Garut ikut membentuk masa depan konservasi dunia. (*)

Atribusi: Artikel ini disusun berdasarkan informasi lapangan dari pengelola kawasan konservasi Kukang Jawa Desa Cipaganti, publikasi Little Fireface Project, serta berbagai penelitian yang dilakukan di Cipaganti oleh akademisi Indonesia dan internasional, termasuk karya-karya dari IPB University, Oxford Brookes University, UGM, Universitas Negeri Jakarta, dan institusi lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *