Talun Cipaganti: Kearifan Sunda yang Menjaga Kukang Jawa, Kopi, dan Kehidupan

Eksplorindonesia.com – Di banyak tempat, pembangunan sering kali dihadapkan pada dua pilihan yang dianggap bertolak belakang: menjaga alam atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Namun di Desa Cipaganti, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, kedua hal tersebut justru berjalan beriringan.

Jawabannya terletak pada sebuah sistem pengelolaan lahan yang telah diwariskan masyarakat Sunda selama ratusan tahun, yaitu talun.

Bagi masyarakat Cipaganti, talun bukan sekadar kebun.

Talun adalah ruang hidup.

Di dalamnya tumbuh kopi, bambu, alpukat, puspa, kaliandra, suren, dan berbagai tanaman lainnya. Di sela-sela pepohonan itu hidup burung, serangga, kelelawar, tupai, musang, hingga Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), primata nokturnal yang kini menjadi ikon konservasi desa tersebut.

Talun menjadi bukti bahwa manusia dapat menghasilkan pangan sekaligus menjaga keanekaragaman hayati.

Warisan peradaban Sunda

Dalam tradisi masyarakat Sunda, sistem talun telah dikenal jauh sebelum istilah agroforestri diperkenalkan oleh para ilmuwan.

Talun merupakan bentuk pengelolaan lahan yang menggabungkan pohon berkayu, tanaman perkebunan, tanaman pangan, dan vegetasi alami dalam satu hamparan yang dikelola secara berkelanjutan.

Berbeda dengan perkebunan monokultur yang hanya menanam satu jenis komoditas, talun mempertahankan keragaman jenis tanaman. Akibatnya, struktur vegetasi menyerupai hutan sekunder dengan beberapa lapisan tajuk.

Model ini membuat tanah tetap terlindungi, kelembapan terjaga, dan keanekaragaman hayati tetap tinggi.

Bagi masyarakat Sunda, talun bukan hanya sistem pertanian.

Ia adalah filosofi hubungan antara manusia dan alam.

Rumah bagi Kukang Jawa

Bagi Kukang Jawa, keberadaan talun sangat penting.

Satwa ini hampir tidak pernah turun ke tanah.

Seluruh aktivitasnya dilakukan di atas pohon.

Mencari makan.

Berpindah tempat.

Beristirahat.

Mencari pasangan.

Semuanya dilakukan melalui tajuk pepohonan.

Karena itu, keberadaan pohon-pohon penaung di kebun kopi Cipaganti menciptakan koridor alami yang memungkinkan kukang bergerak dengan aman.

Ketika pohon ditebang dan tajuk terputus, kukang dipaksa turun ke tanah, tempat mereka lebih rentan terhadap predator, anjing peliharaan, kendaraan, maupun aktivitas manusia.

Inilah sebabnya mengapa masyarakat Cipaganti tetap mempertahankan pepohonan besar di kebun mereka.

Tanpa disadari, mereka sedang menjaga jaringan jalan bagi Kukang Jawa.

Kopi yang tumbuh di bawah naungan

Salah satu ciri khas kopi Cipaganti adalah ditanam di bawah naungan pepohonan.

Dalam dunia perkebunan, sistem ini dikenal sebagai shade-grown coffee atau kopi bawah naungan.

Secara ilmiah, sistem tersebut memberikan banyak manfaat.

Suhu di sekitar tanaman lebih stabil.

Penguapan air berkurang.

Kesuburan tanah meningkat karena serasah daun.

Akar pohon membantu menyerap air hujan.

Erosi tanah dapat ditekan.

Pada saat yang sama, pepohonan menyediakan habitat bagi berbagai satwa liar.

Bukan hanya Kukang Jawa.

Tetapi juga burung pemakan serangga, lebah, kupu-kupu, kelelawar, reptil, hingga berbagai jenis mamalia kecil.

Semuanya berkontribusi terhadap keseimbangan ekosistem kebun.

Ketika alam bekerja untuk petani

Di Cipaganti, petani tidak bekerja sendirian.

Alam ikut membantu.

Burung dan kukang memangsa sebagian serangga yang berpotensi menjadi hama.

Lebah, kupu-kupu, dan serangga penyerbuk membantu proses polinasi pada berbagai tumbuhan di sekitar kebun.

Cacing tanah memperbaiki struktur tanah.

Jamur dan mikroorganisme menguraikan bahan organik menjadi unsur hara.

Akar pepohonan menjaga cadangan air.

Semua proses itu berlangsung tanpa biaya.

Tanpa mesin.

Tanpa bahan kimia.

Dalam ilmu ekologi, manfaat seperti ini dikenal sebagai jasa ekosistem (ecosystem services).

Masyarakat Cipaganti telah menikmatinya selama bergenerasi, bahkan jauh sebelum istilah tersebut dikenal dalam dunia akademik.

Talun sebagai benteng perubahan iklim

Selain menjaga keanekaragaman hayati, talun juga berperan dalam menghadapi perubahan iklim.

Pepohonan menyerap karbon dioksida dari atmosfer.

Akar menahan longsor.

Vegetasi meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah.

Mata air tetap terjaga.

Suhu lingkungan menjadi lebih sejuk.

Fungsi-fungsi tersebut menjadikan talun sebagai salah satu bentuk solusi berbasis alam (nature-based solutions) yang kini banyak didorong dalam kebijakan lingkungan global.

Apa yang dilakukan masyarakat Cipaganti sesungguhnya telah menerapkan prinsip tersebut jauh sebelum istilah itu populer.

Dari kearifan lokal menuju pengakuan dunia

Keberhasilan mempertahankan sistem talun menjadi salah satu alasan Little Fireface Project memilih Cipaganti sebagai lokasi penelitian jangka panjang.

Bagi para peneliti, talun bukan hanya lanskap pertanian.

Talun adalah laboratorium hidup yang memperlihatkan bagaimana manusia dan satwa liar dapat berbagi ruang secara harmonis.

Melalui berbagai penelitian, dunia mulai memahami bahwa konservasi tidak harus selalu dilakukan di taman nasional.

Lahan milik masyarakat pun dapat menjadi habitat penting apabila dikelola secara bijaksana.

Menjaga warisan, menjaga masa depan

Hari ini, tantangan terbesar bukan hanya menjaga Kukang Jawa.

Tantangan sesungguhnya adalah mempertahankan sistem talun di tengah tekanan pembangunan, perubahan tata guna lahan, dan regenerasi petani.

Jika talun hilang, bukan hanya kukang yang kehilangan rumah.

Kopi akan kehilangan kualitasnya.

Mata air akan berkurang.

Tanah menjadi lebih rentan terhadap erosi.

Keanekaragaman hayati ikut menurun.

Karena itu, menjaga talun berarti menjaga seluruh sistem kehidupan yang telah terbentuk selama ratusan tahun.

Pelajaran dari Cipaganti

Di banyak tempat, manusia membangun dengan cara menggantikan alam.

Di Cipaganti, masyarakat justru membangun bersama alam.

Mereka menanam kopi tanpa menghilangkan pohon.

Mereka memperoleh penghasilan tanpa mengusir satwa liar.

Mereka menjaga hutan kecil yang tersisa bukan karena diwajibkan, tetapi karena menyadari bahwa kehidupan mereka bergantung pada keseimbangan alam.

Talun Cipaganti mengajarkan bahwa pembangunan tidak harus mengorbankan lingkungan.

Sebaliknya, ketika manusia menghormati alam, alam akan memberikan lebih banyak daripada yang dibayangkan.

Dan selama pepohonan talun masih berdiri di lereng Papandayan, selama masyarakat tetap memelihara warisan leluhurnya, selama Kukang Jawa masih bergelantungan di antara tajuk-tajuk pohon, Cipaganti akan terus menjadi bukti bahwa kearifan lokal mampu menjawab tantangan konservasi modern. (*)

Atribusi: Artikel ini disusun berdasarkan informasi lapangan dari pengelola kawasan konservasi Kukang Jawa Desa Cipaganti, berbagai publikasi mengenai sistem talun dan agroforestri Sunda, penelitian Little Fireface Project, serta kajian ilmiah tentang hubungan agroforestri, kopi bawah naungan, dan konservasi keanekaragaman hayati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *