Home » Latihan dengan Biaya Swadaya, Dua Atlet BMX Garut Mundur dari PORPROV 2026

Latihan dengan Biaya Swadaya, Dua Atlet BMX Garut Mundur dari PORPROV 2026

Eksplorindonesia.com — Di balik target prestasi olahraga daerah, ada proses panjang yang membutuhkan latihan konsisten, peralatan memadai, dan dukungan pembiayaan yang berkelanjutan. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh atlet BMX Freestyle Kabupaten Garut yang tengah mempersiapkan diri menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) 2026.

Dua atlet BMX Freestyle Garut, Haikal Ahmad Fauzan dan Aditya Pratama, bersama pelatihnya, Bayu Ningrat, memutuskan mundur dari keikutsertaan dalam PORPROV 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.

Keputusan tersebut diambil di tengah berbagai kendala persiapan, mulai dari keterbatasan biaya latihan, keterlambatan pencairan insentif, hingga kebutuhan peralatan yang belum terpenuhi secara memadai.

Bayu Ningrat, yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi BMX Indonesia (ABI) Kabupaten Garut, mengungkapkan bahwa selama persiapan, kegiatan latihan terpaksa mengandalkan dana swadaya dari atlet dan pelatih.

Keterbatasan dukungan tersebut bahkan membuat tim harus menyewa peralatan dari provinsi lain untuk menunjang kebutuhan latihan.

Kondisi ini memperlihatkan tantangan yang dihadapi atlet dalam mempersiapkan diri menuju kompetisi tingkat provinsi. Di satu sisi, mereka dituntut meningkatkan kemampuan dan menjaga konsistensi latihan. Di sisi lain, kebutuhan dasar untuk menunjang proses tersebut masih harus diupayakan secara mandiri.

Insentif Terbatas, Kebutuhan Latihan Belum Terpenuhi

Bayu menyebut insentif yang diterima atlet dan pelatih hanya sebesar Rp300.000 per orang. Menurutnya, pencairan insentif tersebut juga mengalami keterlambatan.

“Uang insentif turun lambat. Angkanya hanya Rp300 ribu per atlet dan pelatih, itu pun terlambat turunnya,” ungkap Bayu.

Ia menjelaskan, kebutuhan pembinaan BMX Freestyle tidak hanya berkaitan dengan insentif. Atlet juga membutuhkan biaya operasional untuk latihan, suplemen penunjang, serta perawatan sepeda yang menjadi perlengkapan utama dalam olahraga tersebut.

“Biaya latihan tidak ada. Biaya suplemen dan perawatan sepeda juga tidak ada,” ujarnya.

Bagi atlet BMX Freestyle, sepeda dan perlengkapan pendukung merupakan bagian penting dari proses latihan. Peralatan yang sesuai dan terawat dibutuhkan untuk menunjang pengembangan keterampilan sekaligus menjaga keselamatan ketika atlet menjalani latihan.

Ketika biaya operasional tidak tersedia secara memadai, proses pembinaan menjadi lebih berat. Atlet dan pelatih harus mencari cara agar latihan tetap berjalan, termasuk melalui dana swadaya dan penyewaan peralatan dari luar daerah.

Ketika Perjuangan Atlet Tidak Diimbangi Dukungan Memadai

Persiapan menuju kompetisi olahraga membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Atlet menjalani latihan, pelatih menyusun program pembinaan, sementara organisasi olahraga dan pemangku kepentingan memiliki peran dalam memastikan kebutuhan persiapan dapat dipenuhi sesuai kemampuan dan perencanaan anggaran.

Bayu juga menyampaikan bahwa sebelumnya sempat ada janji pemberian dana untuk kebutuhan latihan serta dukungan biaya yang berkaitan dengan keberangkatan atlet ke kejuaraan nasional. Namun, menurut keterangannya, persoalan dukungan tersebut belum menyelesaikan kendala yang dihadapi tim dalam persiapan menuju PORPROV 2026.

Situasi ini menjadi perhatian bagi pembinaan olahraga daerah. Target prestasi perlu disertai perencanaan yang realistis, kepastian dukungan operasional, serta komunikasi yang baik antara atlet, pelatih, organisasi olahraga, dan pihak terkait.

Sebab, kemampuan atlet tidak hanya ditentukan oleh bakat dan kedisiplinan. Kesempatan untuk berlatih secara konsisten, tersedianya peralatan yang sesuai, serta dukungan terhadap kebutuhan dasar juga berperan dalam membangun kesiapan menghadapi kompetisi.

Surat Pengunduran Diri Belum Mendapat Tanggapan

Pengunduran diri atlet dan pelatih tersebut disampaikan melalui surat ABI Kabupaten Garut bernomor 12/ABI-GRT/IX/2026 tertanggal 30 September 2026.

Menurut Bayu, surat telah dikirimkan kepada Ketua ISSI Kabupaten Garut, Ketua KONI Kabupaten Garut, Bidang Pembinaan dan Prestasi ISSI Kabupaten Garut, Sekretaris Umum ISSI Kabupaten Garut, serta Asisten Ketua DPRD Kabupaten Garut.

Namun, hingga Rabu, 28 Oktober 2026, ia menyatakan belum menerima tanggapan dari pihak-pihak yang dituju.

Dalam surat tersebut, ABI Garut menyampaikan bahwa keterbatasan waktu dan kondisi yang dihadapi menyebabkan atlet tidak dapat mengikuti program latihan secara optimal dan konsisten. Surat itu juga memuat permohonan maaf atas keputusan pengunduran diri.

Bayu menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan kehendak atlet dan pelatih sendiri, bukan karena perintah dari pihak lain.

Pengunduran diri dua atlet ini menjadi perhatian menjelang pelaksanaan PORPROV 2026. Selain menyangkut kelanjutan keikutsertaan BMX Freestyle Garut, persoalan tersebut juga membuka ruang evaluasi mengenai dukungan yang dibutuhkan atlet untuk menjalani pembinaan secara berkelanjutan.

Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan dari ISSI maupun KONI Kabupaten Garut mengenai persoalan dukungan anggaran dan pengunduran diri tersebut.

Prestasi Membutuhkan Proses dan Dukungan

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa prestasi olahraga tidak lahir hanya dari target dan tuntutan kompetisi. Di balik penampilan atlet, terdapat kebutuhan latihan, peralatan, perawatan, dan dukungan operasional yang perlu direncanakan secara serius.

Pengalaman BMX Freestyle Garut menunjukkan bahwa ketika kebutuhan latihan harus ditanggung secara swadaya, beban persiapan tidak hanya berada pada atlet, tetapi juga pada pelatih yang berupaya menjaga proses pembinaan tetap berjalan.

Karena itu, persoalan ini layak menjadi bahan evaluasi bagi pemangku kepentingan olahraga di Kabupaten Garut. Dukungan yang tepat waktu, keterbukaan mengenai kebutuhan anggaran, dan komunikasi yang efektif diperlukan agar atlet memiliki kesempatan mempersiapkan diri secara optimal.

Pada akhirnya, keberhasilan pembinaan olahraga tidak semestinya hanya diukur dari medali yang diraih. Kualitas proses, pemenuhan kebutuhan atlet, serta keberlanjutan pembinaan juga merupakan bagian penting dari upaya membangun prestasi olahraga daerah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *