Janjan dan Dedi, Penjaga Sunyi dari Lereng Papandayan

Eksplorindonesia.com – Nama mereka mungkin tidak banyak dikenal masyarakat luas. Tidak sering tampil di televisi. Tidak pula mengejar sorotan media. Namun bagi para peneliti Kukang Jawa dari berbagai belahan dunia, dua nama ini sangat akrab: Janjan dan Dedi.

Di Desa Cipaganti, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, keduanya dikenal sebagai penjaga kawasan konservasi Kukang Jawa. Selama lebih dari 15 tahun, mereka mengabdikan waktu, tenaga, dan pengetahuan untuk memastikan salah satu primata paling langka di dunia tetap memiliki rumah di lereng Gunung Papandayan.

Namun, kisah mereka sesungguhnya tidak dimulai dari laboratorium, kampus, atau lembaga konservasi.

Kisah itu dimulai dari kampung.

Tumbuh bersama alam

Sejak kecil, Janjan dan Dedi hidup di lingkungan yang sangat dekat dengan alam.

Mereka mengenal hutan bukan sebagai kawasan yang harus ditakuti, melainkan sebagai bagian dari kehidupan. Pepohonan menjadi penyangga mata air, kebun menjadi sumber penghidupan, sementara satwa liar dipandang sebagai sesama penghuni alam yang memiliki hak untuk hidup.

Orang tua mereka mewariskan sebuah pesan sederhana.

“Tong ngaganggu kukang.”

Jangan mengganggu kukang.

Pesan itu bukan sekadar larangan.

Di baliknya tersimpan filosofi bahwa ketika manusia menjaga alam, alam pun akan menjaga manusia.

Kepercayaan tersebut telah hidup turun-temurun di Cipaganti dan menjadi fondasi yang kemudian diperkuat oleh ilmu pengetahuan modern.

Ketika ilmuwan datang

Sekitar tahun 2011, ketika Little Fireface Project (LFP) mendirikan stasiun penelitian di Cipaganti di bawah kepemimpinan Prof. Anna Nekaris, masyarakat setempat tidak diposisikan hanya sebagai objek konservasi. Mereka justru menjadi mitra utama.

Di sinilah peran Janjan dan Dedi menjadi sangat penting.

Mereka memahami jalur-jalur yang dilalui kukang.

Mereka mengetahui pohon-pohon yang sering digunakan sebagai tempat tidur.

Mereka mengenali perubahan bentang alam dari tahun ke tahun.

Pengetahuan lapangan yang mereka miliki melengkapi pendekatan ilmiah yang dibawa para peneliti.

Kolaborasi itu kemudian berkembang menjadi hubungan yang saling memperkaya.

Menjadi guru bagi para peneliti

Banyak orang mengira para ilmuwan datang ke Cipaganti hanya untuk mengajar.

Faktanya justru sebaliknya.

Banyak peneliti mengaku belajar dari masyarakat.

Setiap mahasiswa yang datang untuk penelitian lapangan biasanya didampingi oleh warga lokal.

Janjan dan Dedi membantu mereka mengenali vegetasi, memahami perilaku satwa, membaca kondisi cuaca, hingga memilih jalur yang aman untuk melakukan pengamatan malam.

Bahkan tidak sedikit penelitian yang berawal dari informasi masyarakat mengenai perubahan perilaku kukang atau perubahan kondisi habitat.

Dengan kata lain, pengetahuan lokal menjadi bagian penting dalam proses ilmiah.

Menjaga lebih dari sekadar kukang

Bagi Janjan dan Dedi, konservasi tidak hanya berarti melindungi satu spesies.

Mereka juga menjaga lanskap agroforestri yang menjadi rumah bagi kukang.

Mereka mendorong petani mempertahankan pohon penaung.

Mereka mendukung praktik pertanian ramah satwa liar.

Mereka ikut mengembangkan kopi yang lahir dari kebun-kebun yang tetap menjadi habitat Kukang Jawa.

Pendekatan inilah yang kemudian berkembang menjadi program Wildlife Friendly Coffee, yang menghubungkan konservasi satwa liar dengan peningkatan kesejahteraan petani. Program tersebut berkembang bersama Little Fireface Project dan petani lokal di Cipaganti.

Menyambut tamu dari seluruh dunia

Selama bertahun-tahun, Janjan dan Dedi telah mendampingi peneliti dari Inggris, Italia, India, Malaysia, Jepang, Belanda, Australia, dan berbagai negara lainnya.

Mereka juga mendampingi mahasiswa dari IPB University, Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Pendidikan Indonesia, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, serta berbagai perguruan tinggi lain.

Bagi para tamu itu, Janjan dan Dedi bukan sekadar pemandu lapangan.

Mereka adalah guru.

Mereka adalah penjaga pengetahuan lokal.

Mereka adalah wajah pertama yang memperkenalkan Cipaganti kepada dunia.

Konservasi adalah pengabdian

Konservasi bukan pekerjaan yang mudah.

Tidak ada jam kerja yang pasti.

Pengamatan kukang dilakukan pada malam hari.

Habitat harus terus dipantau.

Pohon-pohon harus tetap dijaga.

Masyarakat harus terus diajak berdialog agar keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian alam tetap terjaga.

Semua itu dijalani dengan kesabaran.

Bukan demi penghargaan.

Bukan demi popularitas.

Melainkan demi memastikan bahwa Kukang Jawa masih dapat ditemukan oleh generasi berikutnya.

Warisan yang ingin ditinggalkan

Di balik berbagai penelitian internasional, jurnal ilmiah, dan kunjungan peneliti dari berbagai negara, Janjan dan Dedi memiliki harapan yang sederhana.

Mereka ingin anak-anak Cipaganti tetap tumbuh dengan mengenal kukang, sebagaimana mereka mengenalnya sejak kecil.

Mereka ingin hutan kecil di lereng Papandayan tetap berdiri.

Mereka ingin kopi tetap tumbuh berdampingan dengan satwa liar.

Mereka ingin dunia mengenal Cipaganti bukan hanya karena Kukang Jawa, tetapi juga karena masyarakatnya yang membuktikan bahwa konservasi terbaik lahir dari rasa cinta kepada alam.

Di tengah perubahan zaman, Janjan dan Dedi menunjukkan bahwa menjadi penjaga alam tidak selalu membutuhkan gelar akademik.

Yang dibutuhkan adalah kesetiaan.

Kesabaran.

Dan keyakinan bahwa alam yang diwariskan dalam keadaan baik adalah hadiah terbaik bagi generasi yang akan datang.

Atribusi: Artikel ini disusun berdasarkan informasi lapangan mengenai pengelolaan kawasan konservasi Kukang Jawa di Desa Cipaganti, dipadukan dengan berbagai publikasi mengenai Little Fireface Project dan model konservasi berbasis masyarakat yang dikembangkan di Cipaganti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *