“Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu kita.”
Eksplorindonesia.com – Kalimat itu mungkin tidak pernah benar-benar diucapkan oleh para leluhur Desa Cipaganti. Namun jika melihat bagaimana masyarakat desa ini memperlakukan alam selama ratusan tahun, makna itulah yang sesungguhnya mereka wariskan.
Di lereng Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, ada sebuah kampung yang mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak selalu dibangun melalui undang-undang, pagar kawasan, atau patroli bersenjata.
Hubungan itu dibangun melalui rasa hormat.
Melalui cerita yang disampaikan dari orang tua kepada anaknya.
Melalui petuah sederhana agar tidak mengganggu kukang.
Melalui keyakinan bahwa merusak hutan berarti merusak kehidupan sendiri.
Selama bertahun-tahun, sebagian orang mungkin menganggap semua itu hanyalah mitos.
Namun sejarah membuktikan sesuatu yang berbeda.
Justru karena masyarakat Cipaganti memegang teguh nilai tersebut, Kukang Jawa masih bertahan.
Pepohonan masih berdiri.
Mata air masih mengalir.
Kopi tetap tumbuh di bawah naungan hutan kecil yang mereka pelihara.
Apa yang dahulu diwariskan sebagai kearifan lokal, hari ini dijelaskan oleh ilmu pengetahuan sebagai prinsip konservasi modern.
Ketika para ilmuwan dunia datang ke Cipaganti, mereka tentu membawa kamera, antena radio telemetry, GPS, komputer, dan metodologi penelitian yang canggih.
Namun mereka juga menemukan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan teknologi.
Mereka menemukan masyarakat yang telah lebih dahulu menjadi penjaga alam.
Mereka menemukan petani yang memahami bahwa pohon bukan sekadar kayu.
Mereka menemukan kebun kopi yang bukan hanya menghasilkan panen, tetapi juga menjadi rumah bagi Kukang Jawa.
Mereka menemukan bahwa konservasi tidak selalu lahir dari proyek besar.
Kadang, ia tumbuh dari kebiasaan sederhana yang diwariskan lintas generasi.
Selama lebih dari satu dekade, nama Cipaganti perlahan dikenal di berbagai belahan dunia.
Melalui jurnal ilmiah.
Melalui penelitian mahasiswa.
Melalui disertasi doktoral.
Melalui kamera para pembuat film dokumenter.
Melalui cerita para relawan yang pulang ke negaranya masing-masing.
Sebuah desa kecil di Garut kini hadir dalam percakapan para primatolog dunia.
Bukan karena gedung-gedung megah.
Bukan karena fasilitas yang mewah.
Tetapi karena masyarakatnya berhasil mempertahankan sesuatu yang mulai langka di banyak tempat.
Hubungan yang harmonis antara manusia dan alam.
Di balik semua itu, ada sosok-sosok yang bekerja tanpa banyak sorotan.
Janjan.
Dedi.
Para petani kopi.
Para ibu yang tetap menjaga kebun.
Para orang tua yang terus menceritakan petuah leluhur kepada anak-anaknya.
Mereka mungkin tidak pernah menulis jurnal ilmiah.
Namun tanpa mereka, mungkin tidak akan pernah ada jurnal tentang Cipaganti.
Tanpa mereka, mungkin tidak akan ada mahasiswa dari berbagai universitas yang datang belajar.
Tanpa mereka, mungkin tidak akan ada peneliti dari Inggris, Italia, India, Malaysia, Jepang, Belanda, Australia, dan negara-negara lainnya yang menjadikan Cipaganti sebagai laboratorium alam.
Mereka adalah pahlawan konservasi yang bekerja dalam diam.
Serial ini juga memperlihatkan bahwa konservasi tidak dapat berdiri sendiri.
Ia membutuhkan ilmu pengetahuan.
Ia membutuhkan masyarakat.
Ia membutuhkan pertanian yang berkelanjutan.
Ia membutuhkan ekonomi yang berpihak kepada alam.
Ia membutuhkan pendidikan.
Dan yang paling penting, ia membutuhkan rasa memiliki.
Karena pada akhirnya, tidak ada satupun program konservasi yang akan berhasil apabila masyarakat tidak merasa bahwa alam adalah bagian dari hidup mereka.
Cipaganti telah membuktikan hal itu.
Di tengah perubahan iklim, berkurangnya tutupan hutan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan meningkatnya tekanan terhadap lingkungan, Cipaganti hadir membawa harapan.
Harapan bahwa masih ada cara lain untuk membangun.
Harapan bahwa pertanian tidak harus memusnahkan satwa liar.
Harapan bahwa kopi dapat tumbuh bersama hutan.
Harapan bahwa ilmu pengetahuan dapat berjalan berdampingan dengan budaya.
Harapan bahwa desa dapat mengajarkan sesuatu kepada dunia.
Mungkin suatu hari nanti, anak-anak Cipaganti akan membaca berbagai jurnal ilmiah yang mencantumkan nama kampung mereka.
Mungkin mereka akan melihat film dokumenter yang direkam di kebun kopi tempat mereka bermain.
Mungkin mereka akan bertemu mahasiswa dari berbagai negara yang datang untuk belajar.
Semoga ketika hari itu tiba, mereka tetap mengingat satu hal.
Bahwa semua itu bermula dari para leluhur yang memilih menjaga alam.
Kisah Cipaganti sesungguhnya bukan hanya kisah tentang Kukang Jawa.
Bukan pula sekadar kisah tentang kopi.
Atau tentang penelitian ilmiah.
Kisah ini adalah tentang hubungan.
Hubungan antara manusia dan hutan.
Hubungan antara petani dan satwa liar.
Hubungan antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal.
Hubungan antara masa lalu dan masa depan.
Di sanalah letak kekuatan Cipaganti.
Jika suatu hari nanti dunia bertanya bagaimana cara menyelamatkan satwa liar tanpa memisahkan manusia dari alamnya, mungkin jawabannya tidak perlu dicari terlalu jauh.
Datanglah ke lereng Gunung Papandayan.
Berjalanlah menyusuri kebun kopi yang teduh.
Dengarkan cerita para petani.
Tunggulah hingga malam tiba.
Lalu lihatlah seekor Kukang Jawa perlahan melangkah di antara cabang-cabang pohon.
Di sanalah kita akan memahami bahwa konservasi bukanlah tentang menyelamatkan alam dari manusia.
Konservasi adalah tentang mengingatkan manusia bahwa sejak awal, kita adalah bagian dari alam itu sendiri.
Dan selama nilai itu tetap hidup di Cipaganti, selama masyarakatnya tetap menjaga warisan para leluhur, desa kecil di Kabupaten Garut ini akan terus menjadi cahaya yang menerangi jalan konservasi—bukan hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia. (*)
Tentang Serial
“Cipaganti: Kampung Kukang Jawa yang Menginspirasi Dunia” merupakan serial feature yang mengangkat kisah Desa Cipaganti, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, sebagai salah satu contoh konservasi berbasis masyarakat yang mendapat perhatian nasional dan internasional.
Seluruh serial disusun berdasarkan informasi lapangan dari pengelola kawasan konservasi Kukang Jawa di Desa Cipaganti, publikasi ilmiah Little Fireface Project, karya-karya Prof. K. Anne Isola Nekaris beserta para kolaboratornya, berbagai penelitian akademisi Indonesia dan mancanegara, serta wawancara dan dokumentasi yang berkembang di kawasan konservasi Cipaganti.
Semoga serial ini tidak hanya menjadi dokumentasi jurnalistik, tetapi juga menjadi pengingat bahwa masa depan konservasi dapat dimulai dari sebuah desa kecil yang memilih menjaga alamnya.
