Eksplorindonesia.com – Di peta dunia, Desa Cipaganti mungkin hanya sebuah titik kecil di lereng Gunung Papandayan, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut. Namun bagi para primatolog, ahli konservasi, mahasiswa, hingga pembuat film dokumenter, nama Cipaganti memiliki arti yang jauh lebih besar.
Selama lebih dari satu dekade, desa ini menjadi tujuan para ilmuwan dari berbagai negara untuk mempelajari Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), salah satu primata paling langka di dunia. Di tempat inilah ilmu pengetahuan, kearifan lokal, dan kehidupan masyarakat bertemu dalam sebuah model konservasi yang kini dikenal hingga mancanegara.
Namun, perjalanan Cipaganti menuju pengakuan dunia tidak terjadi dalam semalam.
Dari kampung yang sederhana
Jauh sebelum nama Cipaganti muncul dalam jurnal ilmiah internasional, masyarakat desa telah hidup berdampingan dengan Kukang Jawa.
Para leluhur mewariskan pesan sederhana: jangan mengganggu kukang dan jangan merusak pohon tempat mereka hidup.
Kepercayaan itu terus dijaga hingga kini.
Bagi warga, menjaga alam bukanlah program, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Nilai itulah yang kemudian menarik perhatian para peneliti.
Mereka menemukan sesuatu yang mulai langka di banyak tempat: masyarakat yang masih menghormati satwa liar dan mempertahankan habitatnya.
Peneliti dari berbagai penjuru dunia
Sejak Little Fireface Project (LFP) menjadikan Cipaganti sebagai basis penelitian lapangan pada 2011, desa ini terus menerima kunjungan peneliti internasional.
Mereka datang dari Inggris, Italia, India, Malaysia, Jepang, Belanda, Australia, dan berbagai negara lainnya.
Sebagian melakukan penelitian beberapa bulan.
Sebagian kembali setiap tahun.
Sebagian lagi menyelesaikan tesis dan disertasi doktoral.
Saat ini, seorang peneliti asal Italia, Leonardo, sedang menyelesaikan penelitian doktoralnya mengenai Kukang Jawa di Cipaganti.
Di tingkat nasional, Cipaganti juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa dan dosen dari IPB University, Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Gadjah Mada, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan berbagai perguruan tinggi lainnya.
Puluhan penelitian yang lahir dari desa ini telah memperkaya pengetahuan dunia mengenai perilaku, ekologi, komunikasi, hingga konservasi Kukang Jawa berbasis masyarakat.
Desa yang menjadi ruang kelas internasional
Bagi mahasiswa asing yang datang, Cipaganti bukan sekadar lokasi penelitian.
Desa ini menjadi ruang belajar mengenai bagaimana masyarakat dapat hidup berdampingan dengan alam.
Mereka belajar bahwa konservasi bukan hanya soal menyelamatkan satwa.
Konservasi juga berarti menghargai budaya lokal, mendengarkan masyarakat, dan memahami bahwa pengetahuan tradisional memiliki nilai yang tidak kalah penting dibandingkan ilmu pengetahuan modern.
Para relawan tinggal bersama masyarakat.
Mereka ikut menyusuri kebun kopi pada malam hari.
Belajar mengenali suara serangga.
Mempelajari jalur jelajah kukang.
Menyaksikan bagaimana petani menjaga pohon-pohon penaung karena menyadari bahwa pohon tersebut menjadi rumah bagi satwa liar sekaligus menjaga kualitas kebun kopi mereka.
Ketika kamera dunia mengarah ke Cipaganti
Perhatian terhadap Cipaganti tidak hanya datang dari dunia akademik.
Menurut pengelola kawasan konservasi, pada tahun 2025 sebuah tim televisi dan rumah produksi dari luar negeri memilih Cipaganti sebagai lokasi pengambilan gambar film dokumenter mengenai Kukang Jawa dan konservasi berbasis masyarakat.
Bagi warga, kehadiran kamera internasional bukanlah tujuan akhir.
Yang lebih membanggakan adalah pesan yang dibawa film tersebut: bahwa sebuah desa kecil di Garut mampu menunjukkan kepada dunia bagaimana manusia dan satwa liar dapat hidup berdampingan.
Janjan dan Dedi, wajah konservasi dari masyarakat
Di balik semua perhatian internasional itu, terdapat sosok-sosok yang tetap bekerja dalam kesederhanaan.
Janjan dan Dedi.
Mereka mendampingi peneliti.
Menjaga habitat.
Mengantar mahasiswa ke lokasi penelitian.
Menceritakan sejarah kampung kepada tamu yang datang.
Menjadi penghubung antara ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Bagi banyak peneliti, mereka bukan sekadar pemandu lapangan.
Mereka adalah mitra yang memahami setiap sudut habitat Kukang Jawa.
Pengetahuan mereka, yang dibentuk oleh pengalaman hidup bertahun-tahun, sering kali menjadi pelengkap penting bagi penelitian ilmiah.
Garut yang dikenal dunia karena konservasi
Selama ini Garut lebih dikenal karena dodol, domba Garut, kawah Gunung Papandayan, dan pesona alam pegunungannya.
Kini, Cipaganti menambahkan satu identitas baru.
Garut juga dikenal sebagai rumah bagi salah satu model konservasi Kukang Jawa yang mendapat perhatian dunia.
Nama Cipaganti tercantum dalam berbagai publikasi ilmiah internasional.
Kisahnya dipelajari oleh mahasiswa.
Pendekatannya menjadi inspirasi bagi program konservasi di berbagai tempat.
Semua itu lahir bukan dari kota besar, melainkan dari sebuah desa yang memilih menjaga alamnya.
Sebuah warisan untuk generasi berikutnya
Perjalanan Cipaganti belum selesai.
Masih banyak penelitian yang akan dilakukan.
Masih banyak mahasiswa yang akan belajar.
Masih banyak kisah yang akan lahir dari kebun-kebun kopi di lereng Papandayan.
Namun satu hal sudah terbukti.
Konservasi yang paling kuat bukanlah yang dibangun dengan tembok tinggi atau aturan yang keras.
Konservasi yang paling kuat adalah yang tumbuh dari hati masyarakat.
Ketika masyarakat merasa memiliki alamnya, mereka akan menjaganya tanpa diminta.
Ketika ilmu pengetahuan menghargai kearifan lokal, keduanya akan saling menguatkan.
Dan ketika dunia datang ke Cipaganti, yang mereka temukan bukan hanya Kukang Jawa.
Mereka menemukan sebuah pelajaran penting tentang bagaimana manusia, budaya, pertanian, dan alam dapat hidup dalam harmoni.
Di sanalah letak kekuatan sebenarnya dari Cipaganti.
Bukan hanya sebagai rumah Kukang Jawa.
Melainkan sebagai bukti bahwa sebuah desa kecil di Garut mampu memberi inspirasi bagi konservasi dunia. (*)
Atribusi: Artikel ini disusun berdasarkan informasi dari kang Janjan dan kang Dedi, warga lokal pengelola kawasan konservasi Kukang Jawa di Desa Cipaganti, dokumentasi kegiatan Little Fireface Project, publikasi ilmiah mengenai konservasi Kukang Jawa, serta informasi lapangan mengenai aktivitas penelitian dan kunjungan ilmiah di kawasan Cipaganti.
