Little Fireface Project: Ketika Dunia Belajar Konservasi dari Sebuah Desa di Garut

Eksplorindonesia.com – Tidak banyak yang menyangka bahwa sebuah desa di lereng Gunung Papandayan menjadi tujuan para ilmuwan dari berbagai belahan dunia. Desa itu adalah Cipaganti, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut. Di sinilah salah satu kisah konservasi primata paling menarik di Asia berkembang selama lebih dari satu dekade.

Hampir setiap tahun, peneliti dari Inggris, Italia, India, Malaysia, Jepang, Belanda, Australia, hingga berbagai negara lainnya datang ke Cipaganti. Mereka tidak datang untuk menikmati panorama pegunungan semata, melainkan untuk mengamati kehidupan Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), primata nokturnal endemik Pulau Jawa yang kini berstatus Kritis (Critically Endangered) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Di balik ramainya aktivitas penelitian tersebut berdiri sebuah organisasi konservasi internasional bernama Little Fireface Project (LFP).

Berawal dari pencarian habitat Kukang Jawa

Little Fireface Project didirikan oleh Prof. Anna Nekaris, primatolog dari Oxford Brookes University, Inggris. Sejak awal 2000-an, ia dikenal sebagai salah satu ilmuwan yang secara khusus meneliti seluruh spesies kukang di Asia.

Ketika mencari lokasi penelitian jangka panjang di Pulau Jawa, timnya menemukan sesuatu yang sangat langka di Cipaganti.

Di tengah bentang agroforestri yang dikelola masyarakat, populasi Kukang Jawa masih dapat ditemukan dalam jumlah yang memungkinkan untuk dipelajari secara berkelanjutan. Lebih penting lagi, masyarakat setempat memiliki budaya yang menghormati kukang dan tidak memburunya. Kondisi ini menjadi modal yang sangat berharga bagi penelitian jangka panjang.

Sejak sekitar 2011, Little Fireface Project kemudian menjadikan Cipaganti sebagai basis penelitian lapangan. Dari sinilah berbagai penelitian mengenai perilaku, ekologi, konservasi, hingga interaksi manusia dan kukang berkembang dan dipublikasikan dalam jurnal-jurnal ilmiah internasional.

Mengapa memilih Cipaganti?

Bagi banyak orang, habitat satwa langka identik dengan taman nasional atau hutan lindung. Namun Cipaganti justru menawarkan sesuatu yang berbeda.

Kukang Jawa hidup di kawasan talun atau agroforestri masyarakat. Kopi, bambu, alpukat, puspa, kaliandra, dan berbagai pohon penaung membentuk koridor alami yang memungkinkan kukang berpindah tanpa turun ke tanah.

Model seperti ini relatif jarang ditemukan di dunia.

Cipaganti menunjukkan bahwa satwa liar dapat hidup berdampingan dengan manusia apabila lanskap dikelola secara bijaksana. Inilah salah satu alasan mengapa desa ini menjadi laboratorium alam yang sangat penting bagi dunia konservasi.

Bukan hanya penelitian

Little Fireface Project tidak berhenti pada kegiatan ilmiah.

Sejak hadir di Cipaganti, organisasi ini mengembangkan pendekatan yang menggabungkan penelitian, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

Anak-anak desa diajak mengenal satwa liar melalui program Nature Club.

Petani didampingi mengembangkan Wildlife Friendly Coffee, yaitu sistem budidaya kopi yang menjaga habitat satwa.

Masyarakat memperoleh pelatihan mengenai pentingnya keanekaragaman hayati.

Relawan lokal dilibatkan dalam pemantauan kukang.

Mahasiswa Indonesia mendapat kesempatan magang bersama peneliti internasional.

Konservasi tidak lagi dipahami sebagai larangan, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Desa yang menjadi ruang kelas dunia

Selama bertahun-tahun, Cipaganti telah menerima ratusan mahasiswa, relawan, dan peneliti.

Akademisi dari IPB University, Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Gadjah Mada, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, serta berbagai perguruan tinggi lainnya menjadikan desa ini sebagai lokasi penelitian.

Topik yang dikaji sangat beragam.

Mulai dari perilaku makan Kukang Jawa.

Pohon tidur.

Pola pergerakan.

Hubungan sosial.

Koridor tajuk buatan.

Radio telemetry.

Keanekaragaman serangga.

Agroforestri.

Konservasi berbasis masyarakat.

Hingga persepsi masyarakat terhadap satwa liar.

Puluhan skripsi, tesis, disertasi, serta artikel ilmiah internasional lahir dari penelitian tersebut.

Saat ini, seorang peneliti asal Italia, Leonardo, tengah melakukan penelitian sebagai bagian dari penyusunan disertasi doktoralnya. Kehadirannya menjadi bukti bahwa Cipaganti tetap menjadi lokasi penelitian yang relevan bagi dunia akademik internasional.

Peran masyarakat yang tak tergantikan

Di balik keberhasilan Little Fireface Project, terdapat masyarakat Cipaganti yang menjadi fondasi utama konservasi.

Tokoh-tokoh lokal seperti Janjan dan Dedi berperan menjaga habitat, mendampingi penelitian lapangan, serta memastikan hubungan antara peneliti dan masyarakat berjalan baik.

Mereka bukan sekadar pemandu lapangan.

Mereka adalah penjaga pengetahuan lokal.

Mereka memahami setiap jalur, setiap pohon yang menjadi tempat tidur kukang, hingga perubahan-perubahan kecil yang terjadi di habitatnya.

Pengetahuan tersebut sering kali melengkapi hasil penelitian ilmiah.

Kolaborasi inilah yang membuat Cipaganti menjadi contoh nyata bahwa ilmu pengetahuan modern dan kearifan lokal dapat berjalan berdampingan.

Ketika dunia datang ke Garut

Pengakuan terhadap Cipaganti tidak hanya datang dari kalangan akademisi.

Pada 2025, sebuah tim televisi internasional memilih Cipaganti sebagai lokasi pengambilan gambar film dokumenter mengenai Kukang Jawa dan konservasi berbasis masyarakat. Dokumenter tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah desa kecil di Garut mampu menjaga spesies yang berada di ambang kepunahan melalui kolaborasi antara warga, peneliti, dan organisasi konservasi.

Perhatian dunia itu sesungguhnya bukan hanya ditujukan kepada kukang.

Lebih dari itu, dunia sedang belajar bahwa konservasi yang berhasil selalu dimulai dari masyarakat.

Konservasi sebagai cara hidup

Bagi Janjan dan Dedi, keberhasilan terbesar bukanlah banyaknya peneliti yang datang atau banyaknya jurnal ilmiah yang diterbitkan.

Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika anak-anak Cipaganti tumbuh dengan keyakinan yang sama seperti para leluhurnya: bahwa alam harus dihormati, satwa harus dilindungi, dan hutan bukan sekadar sumber penghidupan, tetapi juga warisan yang harus diserahkan kepada generasi berikutnya.

Dari Cipaganti, dunia belajar bahwa konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies.

Konservasi adalah tentang menjaga hubungan antara manusia, budaya, dan alam.

Dan hubungan itu, di Desa Cipaganti, masih hidup hingga hari ini. (*)

Atribusi: Artikel ini disusun berdasarkan informasi lapangan dari pengelola kawasan konservasi Kukang Jawa di Desa Cipaganti, publikasi ilmiah Little Fireface Project, karya-karya Prof. Anna Nekaris dan tim peneliti internasional, serta berbagai penelitian akademisi dari IPB University, Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Gadjah Mada, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan perguruan tinggi lainnya mengenai konservasi Kukang Jawa di Cipaganti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *