Home » Tirto Adhi Soerjo: Saat Pena Mulai Membangunkan Indonesia

Tirto Adhi Soerjo: Saat Pena Mulai Membangunkan Indonesia

EksplorIndonesia.com – Jauh sebelum Indonesia merdeka, sebelum radio menjadi alat propaganda politik, sebelum pidato-pidato besar menggema di lapangan terbuka, ada satu orang yang mulai membangunkan kesadaran bumiputra lewat tulisan.

Namanya Tirto Adhi Soerjo.

Ia bukan panglima perang. Bukan pula pemimpin kerajaan atau pejabat tinggi kolonial. Senjatanya hanyalah surat kabar, tinta, dan keberanian untuk menulis tentang ketidakadilan di Hindia Belanda.

Namun dari pena itulah, lahir sesuatu yang kelak menjadi fondasi penting kebangkitan bangsa Indonesia: kesadaran bahwa pribumi bukan sekadar rakyat jajahan.

Tirto Adhi Soerjo lahir dengan nama Raden Mas Djokomono sekitar tahun 1880 di Cepu, Blora, Jawa Tengah. Ia berasal dari kalangan priyayi Jawa, kelompok elite pribumi yang memiliki hubungan dengan struktur pemerintahan kolonial. Latar belakang itu memberinya akses pendidikan yang tidak dimiliki banyak rakyat bumiputra saat itu.

Ia sempat belajar di STOVIA, sekolah kedokteran untuk pribumi yang juga melahirkan banyak tokoh kebangkitan nasional. Namun Tirto tidak menyelesaikan pendidikannya di sana.

Dunianya ternyata bukan ruang praktik medis, melainkan dunia tulisan.

Pada masa itu, surat kabar di Hindia Belanda sebagian besar dikuasai orang Eropa, Indo, atau kelompok tertentu yang dekat dengan kekuasaan kolonial. Suara pribumi nyaris tidak memiliki ruang. Kalau pun ada, sering ditempatkan hanya sebagai objek berita, bukan subjek yang berbicara tentang nasibnya sendiri.

Di tengah situasi itulah Tirto muncul.

Ia mulai bekerja di beberapa surat kabar sebelum kemudian mendirikan media sendiri seperti Soenda Berita, Putri Hindia, dan yang paling terkenal: Medan Prijaji.

Ketika Medan Prijaji terbit pada awal abad ke-20, surat kabar itu bukan sekadar media informasi. Ia menjadi ruang baru bagi kaum bumiputra untuk berbicara tentang ketidakadilan, pendidikan, ekonomi, dan harga diri bangsa yang selama ratusan tahun ditekan kolonialisme.

Yang membuat Medan Prijaji berbeda adalah keberaniannya.

Tirto menulis dengan tajam. Ia mengkritik pejabat kolonial, membela rakyat kecil, membongkar penyalahgunaan kekuasaan, dan menyerang praktik diskriminasi terhadap pribumi.

Di masa ketika banyak orang takut pada pemerintah kolonial, Tirto justru menggunakan surat kabar sebagai alat perlawanan.

Karena itu banyak sejarawan menyebutnya sebagai orang pertama yang menjadikan pers di Indonesia bukan hanya alat informasi, tetapi alat pembentuk opini publik dan kesadaran politik.

Ia menulis bukan sekadar memberitakan peristiwa, melainkan membangun cara berpikir baru di kalangan bumiputra.

Bahwa mereka punya hak untuk bersuara.

Bahwa mereka layak mendapatkan pendidikan.

Bahwa mereka tidak selamanya harus tunduk pada sistem kolonial.

Dan mungkin yang paling penting: Tirto mulai memperkenalkan gagasan tentang “bangsa” jauh sebelum Indonesia resmi berdiri.

Pada masa itu, masyarakat di Hindia Belanda masih lebih banyak melihat dirinya berdasarkan suku, daerah, atau kelompok sosial masing-masing. Identitas “Indonesia” belum benar-benar terbentuk.

Namun lewat tulisan-tulisannya, Tirto perlahan membangun kesadaran bahwa rakyat bumiputra memiliki nasib yang sama sebagai bangsa terjajah.

Karena itulah pengaruh Tirto jauh melampaui dunia jurnalistik.

Ia aktif membangun organisasi dan jaringan sosial. Salah satu yang penting adalah Sarekat Prijaji, organisasi yang bertujuan membantu pendidikan dan kemajuan kaum pribumi. Organisasi itu memiliki program beasiswa, taman baca, asrama pelajar murah, hingga kursus pendidikan bagi rakyat bumiputra yang sulit mengakses sekolah Belanda.

Gagasannya sangat maju untuk ukuran zamannya.

Tirto memahami bahwa kebangkitan bangsa tidak cukup hanya lewat pidato atau kemarahan. Pendidikan dan informasi harus menjadi fondasi utama.

Ia juga terlibat dalam perkembangan awal Sarekat Islam melalui Sarekat Dagang Islamiyah. Bersama tokoh-tokoh pedagang pribumi, Tirto membantu membangun organisasi yang bertujuan memperkuat posisi ekonomi umat Islam dan pedagang lokal di tengah dominasi ekonomi kolonial.

Pada masa itu, gerakan pribumi mulai tumbuh di berbagai daerah. Namun Tirto termasuk tokoh yang paling awal memahami kekuatan media dalam menghubungkan gerakan-gerakan tersebut.

Ia bukan hanya wartawan.

Ia adalah penggerak opini.

Namun keberanian itu harus dibayar mahal.

Pemerintah kolonial Belanda mulai melihat Tirto sebagai ancaman. Tulisan-tulisannya dianggap terlalu keras dan berbahaya. Ia beberapa kali berhadapan dengan hukum kolonial karena artikel-artikelnya yang menyerang pejabat pemerintah.

Tahun 1910, Tirto diasingkan ke Lampung karena tulisan di Medan Prijaji dianggap menghina seorang pejabat kolonial.

Masalahnya tidak berhenti di sana.

Tekanan politik, masalah keuangan surat kabar, konflik organisasi, dan pengawasan kolonial terus menghantam hidupnya. Medan Prijaji akhirnya mengalami kesulitan finansial dan berhenti terbit pada 1912.

Pada akhir 1913, Tirto kembali dibuang oleh pemerintah kolonial, kali ini ke Maluku.

Perlahan, namanya mulai tersingkir dari pusat pergerakan.

Ironisnya, banyak organisasi dan tokoh yang kemudian tumbuh besar justru melanjutkan jalan yang sebelumnya dirintis Tirto. Tetapi nama Tirto sendiri sempat lama tenggelam dari ingatan publik.

Ia meninggal di Batavia pada 7 Desember 1918 dalam kondisi hidup yang jauh dari gemerlap. Beberapa catatan menyebut ia mengalami tekanan mental dan depresi setelah bertahun-tahun menghadapi pengasingan, tekanan politik, dan kehancuran usaha persnya.

Ia wafat pada usia yang masih sangat muda: sekitar 37 atau 38 tahun.

Namun gagasannya tidak ikut mati.

Apa yang diperjuangkan Tirto kemudian tumbuh menjadi bagian penting dari gerakan nasional Indonesia. Pers berkembang menjadi alat perjuangan. Organisasi pribumi bermunculan. Kesadaran kebangsaan perlahan menguat.

Dan di kemudian hari, banyak orang mulai menyadari bahwa Tirto adalah salah satu pionir yang pertama kali membangunkan kesadaran itu lewat tulisan.

Pramoedya Ananta Toer bahkan menjadikan sosok Tirto sebagai inspirasi utama tokoh Minke dalam novel Bumi Manusia dan Tetralogi Buru. Lewat karya-karya Pramoedya, generasi baru Indonesia kembali mengenal nama Tirto Adhi Soerjo.

Tahun 1973, pemerintah menetapkannya sebagai Bapak Pers Nasional. Pada 2006, ia resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia.

Namun warisan terbesar Tirto sebenarnya bukan gelar itu.

Warisan terbesarnya adalah kesadaran bahwa tulisan bisa menjadi alat perubahan.

Bahwa surat kabar bukan hanya bisnis berita, tetapi ruang perjuangan gagasan.

Dan bahwa sebuah bangsa kadang mulai bangun bukan dari dentuman senjata, melainkan dari seseorang yang berani berkata lewat tulisannya:

“kita bukan bangsa yang harus terus diperintah.” (*)

Artikel ini diolah dan dikembangkan dari berbagai sumber sejarah, arsip, dan literatur mengenai Tirto Adhi Soerjo, terutama data biografi dan dokumentasi dari Wikipedia Indonesia – Tirto Adhi Soerjo, serta rujukan karya Pramoedya Ananta Toer melalui buku Sang Pemula dan Tetralogi Buru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *