Eksplorindonesia.com – Sebagian besar masyarakat mengenal Desa Cipaganti, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, sebagai kawasan pertanian di lereng Gunung Papandayan. Namun di dunia akademik internasional, nama desa ini memiliki makna yang jauh lebih besar.
Selama lebih dari satu dekade, Cipaganti menjadi salah satu lokasi penelitian lapangan terpenting untuk mempelajari Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), primata nokturnal endemik Pulau Jawa yang berstatus Kritis (Critically Endangered) menurut IUCN Red List.
Nama Cipaganti kini tidak hanya tercatat di peta Kabupaten Garut.
Ia juga hadir dalam berbagai jurnal ilmiah internasional, disertasi doktoral, tesis magister, skripsi, buku akademik, hingga forum-forum konservasi dunia.
Bagi banyak ilmuwan, menyebut Kukang Jawa hampir selalu berarti menyebut Cipaganti.
Laboratorium alam yang hidup
Berbeda dengan laboratorium konvensional yang dipenuhi tabung reaksi dan peralatan modern, laboratorium terbesar Cipaganti adalah bentang alamnya sendiri.
Kebun kopi.
Talun.
Pepohonan bambu.
Hutan rakyat.
Mata air.
Dan jaringan vegetasi yang masih memungkinkan Kukang Jawa bertahan hidup.
Di kawasan inilah para ilmuwan melakukan penelitian langsung terhadap populasi kukang liar, sesuatu yang tidak mudah dilakukan mengingat satwa ini aktif pada malam hari dan bergerak sangat perlahan di tajuk pepohonan.
Penelitian berlangsung sepanjang tahun.
Musim hujan.
Musim kemarau.
Malam berkabut.
Hingga dini hari.
Seluruhnya menjadi bagian dari proses panjang memahami kehidupan Kukang Jawa di habitat alaminya.
Dari Garut lahir pengetahuan baru
Banyak temuan ilmiah mengenai Kukang Jawa berasal dari penelitian di Cipaganti.
Di antaranya mengenai pola aktivitas malam, perilaku mencari makan, pemilihan pohon tidur, penggunaan habitat agroforestri, perilaku sosial, komunikasi vokal, hingga penggunaan jembatan kanopi (canopy bridge) sebagai solusi mengatasi fragmentasi habitat.
Penelitian tentang jembatan kanopi, misalnya, menunjukkan bahwa Kukang Jawa mampu memanfaatkan struktur buatan untuk berpindah antarpohon ketika koridor alami terputus. Temuan ini kemudian menjadi salah satu referensi penting dalam upaya mitigasi dampak pembangunan terhadap satwa arboreal.
Kajian lain memperlihatkan bahwa sistem agroforestri yang dipertahankan masyarakat Cipaganti mampu menjadi habitat penting bagi Kukang Jawa, sekaligus tetap mendukung kegiatan ekonomi melalui budidaya kopi.
Temuan-temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa konservasi tidak selalu harus dilakukan di kawasan hutan lindung.
Dari skripsi hingga disertasi doktor
Tidak hanya ilmuwan internasional.
Cipaganti juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa Indonesia.
Mahasiswa dari IPB University, Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Pendidikan Indonesia, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan berbagai perguruan tinggi lainnya telah menjadikan Cipaganti sebagai lokasi penelitian.
Sebagian meneliti perilaku Kukang Jawa.
Sebagian mengkaji vegetasi.
Sebagian meneliti hubungan masyarakat dengan konservasi.
Sebagian lagi mengembangkan kajian mengenai kopi ramah satwa liar.
Banyak dari penelitian tersebut kemudian dipublikasikan dalam jurnal nasional maupun internasional.
Saat ini, penelitian juga terus berlanjut.
Salah satunya dilakukan oleh Leonardo, peneliti asal Italia yang sedang menyusun disertasi doktoralnya mengenai Kukang Jawa di Cipaganti.
Hal ini menunjukkan bahwa desa tersebut masih menjadi lokasi penelitian yang relevan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Kolaborasi lintas negara
Salah satu kekuatan penelitian di Cipaganti adalah kolaborasi.
Melalui Little Fireface Project, para peneliti dari berbagai negara bekerja bersama akademisi Indonesia dan masyarakat lokal.
Ilmu ekologi bertemu dengan antropologi.
Primatologi bertemu dengan pertanian.
Konservasi bertemu dengan ekonomi masyarakat.
Yang tidak kalah penting, ilmu pengetahuan modern bertemu dengan kearifan lokal.
Kolaborasi seperti inilah yang membuat hasil penelitian dari Cipaganti memiliki nilai yang lebih luas, karena tidak hanya membahas satwa, tetapi juga hubungan manusia dengan alam.
Masyarakat sebagai bagian dari ilmu pengetahuan
Keberhasilan penelitian di Cipaganti tidak mungkin terjadi tanpa keterlibatan masyarakat.
Tokoh-tokoh lokal seperti Janjan dan Dedi menjadi mitra utama para peneliti.
Mereka mengenalkan jalur pengamatan.
Menunjukkan pohon-pohon tempat kukang beristirahat.
Menjelaskan perubahan bentang alam.
Menceritakan sejarah kawasan.
Pengetahuan lokal yang mereka miliki menjadi pelengkap penting bagi data ilmiah.
Di Cipaganti, masyarakat bukan objek penelitian.
Mereka adalah rekan sejajar dalam proses menghasilkan pengetahuan.
Ketika nama Garut dibaca di seluruh dunia
Setiap kali jurnal ilmiah mengenai Kukang Jawa diterbitkan, nama lokasi penelitian selalu dicantumkan.
Di situlah nama Cipaganti, Garut, Jawa Barat, Indonesia terus muncul dan dibaca oleh para peneliti di berbagai negara.
Bagi Kabupaten Garut, hal ini merupakan kebanggaan tersendiri.
Nama daerah tidak hanya dikenal karena panorama alam, wisata, atau produk pertaniannya.
Tetapi juga karena kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan global.
Jarang ada sebuah desa yang mampu memberikan sumbangan begitu besar terhadap pemahaman dunia mengenai satu spesies satwa liar.
Cipaganti berhasil melakukannya.
Pengetahuan untuk masa depan
Seluruh penelitian yang dilakukan di Cipaganti memiliki tujuan yang sama.
Bukan sekadar menghasilkan jurnal.
Bukan sekadar memenuhi syarat kelulusan mahasiswa.
Melainkan menyediakan dasar ilmiah bagi upaya penyelamatan Kukang Jawa.
Data mengenai populasi, perilaku, habitat, hingga hubungan dengan masyarakat menjadi landasan bagi penyusunan strategi konservasi yang lebih efektif.
Dengan kata lain, setiap malam yang dihabiskan para peneliti di kebun kopi Cipaganti sesungguhnya adalah investasi pengetahuan untuk masa depan.
Sebuah desa yang mengajarkan dunia
Di tengah derasnya arus modernisasi, Cipaganti menunjukkan bahwa sebuah desa tidak harus menjadi kota besar untuk memberi pengaruh bagi dunia.
Dengan menjaga hutan kecilnya.
Dengan mempertahankan sistem talun.
Dengan menghormati warisan leluhur.
Dengan membuka diri terhadap ilmu pengetahuan.
Masyarakat Cipaganti telah menjadikan desanya sebagai salah satu pusat pembelajaran konservasi Kukang Jawa yang paling dikenal di tingkat internasional.
Di sinilah lahir sebuah pelajaran penting.
Bahwa ilmu pengetahuan tidak selalu dimulai dari laboratorium megah.
Kadang, ia tumbuh dari kebun kopi di lereng gunung, dari cerita para leluhur, dan dari masyarakat yang memilih menjaga alamnya.
Dari Cipaganti, pengetahuan mengalir ke dunia.
Dan dari dunia, harapan kembali kepada Cipaganti untuk terus menjadi rumah yang aman bagi Kukang Jawa. (*)
Atribusi: Artikel ini disusun berdasarkan informasi lapangan dari pengelola kawasan konservasi Kukang Jawa di Desa Cipaganti, publikasi ilmiah Little Fireface Project, karya-karya Prof. K. Anne Isola Nekaris beserta para kolaboratornya, serta berbagai penelitian akademisi Indonesia dan internasional yang menjadikan Cipaganti sebagai lokasi penelitian Kukang Jawa.
