Prof. Anna Nekaris: Ilmuwan yang Membawa Nama Cipaganti ke Panggung Konservasi Dunia

Eksplorindonesia.com – Jika berbicara tentang konservasi Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), ada satu nama yang hampir selalu muncul dalam berbagai jurnal ilmiah internasional, buku, hingga forum konservasi dunia, yakni Prof. K. Anne Isola (Anna) Nekaris.

Selama lebih dari tiga dekade, primatolog asal Inggris tersebut mendedikasikan kariernya untuk mempelajari kukang, kelompok primata nokturnal yang hidup di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di antara berbagai lokasi penelitian yang pernah ia kunjungi, Desa Cipaganti, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, memiliki tempat yang sangat istimewa.

Dari desa kecil di lereng Gunung Papandayan inilah lahir berbagai penelitian yang kemudian menjadi rujukan dunia dalam upaya penyelamatan Kukang Jawa.

Dari ruang kuliah menuju hutan tropis

Anna Nekaris bukanlah ilmuwan yang hanya bekerja di balik meja laboratorium.

Sejak awal kariernya, ia memilih menghabiskan sebagian besar waktunya di habitat alami satwa liar. Fokus utamanya adalah primata nokturnal yang selama bertahun-tahun justru kurang mendapat perhatian dibandingkan orangutan, gorila, atau simpanse.

Pilihan tersebut kemudian mengantarkannya menjadi salah satu pakar kukang paling berpengaruh di dunia.

Melalui berbagai penelitian lapangan di Indonesia, India, Sri Lanka, Vietnam, Kamboja, Thailand, hingga Malaysia, ia memperlihatkan bahwa kukang bukan sekadar satwa yang lucu, melainkan spesies yang memiliki peran ekologis penting sekaligus menghadapi ancaman serius akibat hilangnya habitat dan perdagangan ilegal.

Publikasi ilmiahnya kini menjadi rujukan utama dalam studi primata nokturnal.

Mengapa memilih Cipaganti?

Ketika mencari lokasi penelitian jangka panjang mengenai Kukang Jawa di Pulau Jawa, Anna Nekaris dan timnya menemukan sesuatu yang sangat langka.

Di Desa Cipaganti, masyarakat masih mempertahankan sistem talun atau agroforestri yang kaya akan pepohonan. Lanskap seperti ini menyediakan habitat yang sesuai bagi Kukang Jawa.

Lebih penting lagi, masyarakat setempat memiliki kearifan lokal yang melarang mengganggu kukang maupun merusak habitatnya.

Bagi seorang ilmuwan konservasi, kondisi tersebut merupakan kombinasi yang sangat ideal.

Satwa masih ada.

Habitat masih terjaga.

Masyarakat mendukung.

Dari sinilah kemudian lahir keputusan menjadikan Cipaganti sebagai lokasi penelitian jangka panjang.

Lahirnya Little Fireface Project

Untuk memperkuat penelitian sekaligus melibatkan masyarakat dalam upaya pelestarian, Anna Nekaris mendirikan Little Fireface Project (LFP).

Nama “Little Fireface” terinspirasi dari sebutan lokal terhadap kukang yang memiliki mata besar memantulkan cahaya pada malam hari.

Namun tujuan organisasi ini jauh melampaui penelitian ilmiah.

LFP dibangun dengan tiga pilar utama.

Pertama, penelitian ilmiah mengenai Kukang Jawa.

Kedua, pendidikan konservasi.

Ketiga, pemberdayaan masyarakat.

Pendekatan tersebut kemudian menjadikan Cipaganti bukan sekadar lokasi penelitian, melainkan contoh bagaimana ilmu pengetahuan dan masyarakat dapat tumbuh bersama.

Ilmu pengetahuan yang lahir dari desa

Sejak berdirinya Little Fireface Project, Cipaganti berubah menjadi laboratorium alam.

Ratusan mahasiswa.

Puluhan peneliti.

Relawan dari berbagai negara.

Mahasiswa doktoral.

Profesor.

Seluruhnya pernah belajar di desa ini.

Penelitian yang dilakukan mencakup berbagai bidang.

Perilaku Kukang Jawa.

Ekologi.

Reproduksi.

Komunikasi.

Penggunaan habitat.

Koridor tajuk pohon.

Agroforestri.

Konservasi berbasis masyarakat.

Hingga hubungan antara keanekaragaman hayati dengan sistem pertanian kopi.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal-jurnal internasional dan menjadi dasar berbagai kebijakan konservasi.

Percaya kepada masyarakat

Salah satu hal yang membedakan pendekatan Anna Nekaris dengan banyak proyek konservasi lainnya adalah kepercayaannya kepada masyarakat lokal.

Ia tidak datang untuk menggantikan peran masyarakat.

Sebaliknya, ia memilih memperkuat apa yang telah diwariskan para leluhur Cipaganti.

Tokoh-tokoh lokal seperti Janjan dan Dedi menjadi mitra penting.

Pengetahuan mereka mengenai jalur jelajah kukang, pohon tidur, musim berbunga, hingga perubahan habitat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penelitian ilmiah.

Kolaborasi tersebut membuktikan bahwa ilmu pengetahuan modern dan pengetahuan tradisional bukanlah dua hal yang saling bertentangan.

Keduanya justru saling melengkapi.

Dari konservasi menuju kesejahteraan

Anna Nekaris juga memahami bahwa konservasi tidak akan berhasil apabila masyarakat tidak memperoleh manfaat.

Karena itu, bersama Little Fireface Project dan kelompok tani setempat, dikembangkan program Wildlife Friendly Coffee.

Program ini mendorong budidaya kopi yang tetap mempertahankan pepohonan penaung, mengurangi penggunaan pestisida kimia, serta menjaga habitat Kukang Jawa.

Melalui pendekatan tersebut, konservasi tidak lagi dipandang sebagai hambatan pembangunan.

Sebaliknya, konservasi menjadi nilai tambah yang meningkatkan kualitas produk pertanian sekaligus memperkuat identitas kopi Cipaganti di pasar internasional.

Mengangkat nama Garut ke dunia

Puluhan publikasi ilmiah yang ditulis Anna Nekaris dan para kolaboratornya selalu menyebut satu nama.

Cipaganti.

Garut.

Jawa Barat.

Nama-nama tersebut kini dikenal oleh komunitas primatologi internasional.

Banyak mahasiswa asing pertama kali mengenal Garut bukan dari destinasi wisatanya, melainkan dari jurnal-jurnal ilmiah mengenai Kukang Jawa.

Dengan cara yang sederhana, sebuah desa di Kabupaten Garut berhasil menempatkan dirinya di peta penelitian konservasi dunia.

Sebuah warisan yang terus hidup

Hari ini, penelitian di Cipaganti masih terus berlangsung.

Mahasiswa baru terus berdatangan.

Peneliti baru terus melakukan pengamatan.

Disertasi baru terus ditulis.

Salah satunya adalah penelitian doktoral Leonardo dari Italia yang saat ini sedang berlangsung di Cipaganti.

Semua itu menunjukkan bahwa keputusan Anna Nekaris menjadikan Cipaganti sebagai lokasi penelitian jangka panjang bukan hanya menghasilkan karya ilmiah.

Ia juga melahirkan sebuah ekosistem pengetahuan.

Ekosistem yang mempertemukan masyarakat, petani, mahasiswa, ilmuwan, relawan, dan generasi muda dalam satu tujuan yang sama.

Menjaga Kukang Jawa agar tetap menjadi bagian dari alam Indonesia.

Mungkin itulah warisan terbesar Prof. Anna Nekaris.

Bukan hanya ratusan publikasi ilmiah yang telah dihasilkannya.

Melainkan keyakinan bahwa konservasi terbaik selalu dimulai dengan menghormati masyarakat yang telah lebih dahulu menjaga alamnya.

Dan di Cipaganti, keyakinan itu terus hidup, tumbuh bersama setiap pohon, setiap kebun kopi, dan setiap Kukang Jawa yang masih bergelantungan di bawah langit lereng Papandayan. (*)

Atribusi: Artikel ini disusun berdasarkan publikasi ilmiah Prof. K. Anne Isola Nekaris, dokumentasi Little Fireface Project, berbagai jurnal internasional mengenai Kukang Jawa, serta informasi lapangan dari pengelola kawasan konservasi Kukang Jawa di Desa Cipaganti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *