Eksplorindonesia.com – Jika ditanya apa yang membuat kopi Cipaganti berbeda, sebagian orang mungkin akan menjawab karena tumbuh di lereng Gunung Papandayan dengan tanah vulkanik yang subur. Sebagian lagi akan menyebut ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut yang menghasilkan cita rasa Arabika berkualitas.
Namun bagi masyarakat Desa Cipaganti, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, jawabannya jauh lebih sederhana.
Kopi mereka tumbuh karena alam tetap dijaga. Dan alam tetap terjaga karena ada kukang.
Hubungan itu telah berlangsung sangat lama. Jauh sebelum konsep sustainability, eco coffee, atau wildlife-friendly farming dikenal dunia, masyarakat Cipaganti telah mengembangkan sistem pertanian yang menyatukan kopi, pepohonan, satwa liar, dan kehidupan manusia dalam satu ekosistem yang saling menopang.
Warisan sejak abad ke-19
Sejarah kopi di kawasan Priangan tidak bisa dipisahkan dari kebijakan tanam kopi pada masa kolonial Belanda. Sejak awal 1800-an, kawasan pegunungan Garut, termasuk Cisurupan, mulai dikenal sebagai daerah penghasil kopi Arabika berkualitas.
Lereng Gunung Papandayan memiliki kombinasi tanah vulkanik, suhu sejuk, curah hujan tinggi, dan ketinggian ideal yang membuat tanaman kopi tumbuh dengan baik. Tradisi itu bertahan hingga kini dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Di Desa Cipaganti, kebun kopi bukan hanya lahan produksi. Ia menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus rumah bagi berbagai satwa liar.
Kini, salah satu tokoh yang meneruskan tradisi tersebut adalah Janjan, yang selain dikenal sebagai pengelola kawasan konservasi Kukang Jawa juga menjadi penggerak budidaya kopi berbasis konservasi.
Kebun kopi yang menjadi rumah kukang
Berbeda dengan perkebunan monokultur, kebun kopi di Cipaganti menggunakan sistem agroforestri atau talun, yakni kopi ditanam di bawah naungan berbagai jenis pohon seperti bambu, alpukat, kaliandra, puspa, dan eukaliptus.
Pepohonan itu bukan sekadar pelindung tanaman kopi dari panas matahari.
Bagi Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), tajuk-tajuk pohon tersebut merupakan jalan raya yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Kukang hampir tidak pernah turun ke tanah karena lebih aman berpindah melalui cabang-cabang pohon.
Inilah yang membuat kopi dan kukang hidup berdampingan.
Para petani menjaga pepohonan agar kopi tetap berkualitas.
Sementara pepohonan yang sama menjadi rumah bagi kukang.
Kukang ikut menjaga kebun kopi
Hubungan keduanya ternyata jauh lebih dalam daripada sekadar berbagi ruang hidup.
Dalam ekologi, keberadaan satwa liar memberikan jasa ekosistem (ecosystem services) yang sangat penting bagi pertanian.
Kukang merupakan pemakan serangga, ulat, belalang, serta berbagai hewan kecil yang berpotensi menjadi hama tanaman. Dengan demikian, keberadaan kukang membantu menjaga keseimbangan populasi serangga secara alami sehingga penggunaan pestisida kimia dapat dikurangi.
Selain itu, saat mencari nektar dan getah pohon pada malam hari, kukang ikut berperan dalam proses penyerbukan tanaman tertentu di sekitar kebun. Walaupun bukan penyerbuk utama bunga kopi, keberadaannya membantu menjaga kesehatan vegetasi peneduh yang menjadi penopang ekosistem kebun.
Ekosistem tersebut juga diperkuat oleh lebah, kupu-kupu, ngengat, kelelawar, dan burung yang membantu penyerbukan (pollination), sedangkan luwak, tupai, dan mamalia kecil lainnya membantu penyebaran biji (seed dispersal) serta memperkaya unsur hara tanah melalui aktivitas alaminya.
Artinya, secangkir kopi Cipaganti sesungguhnya lahir dari kerja bersama antara manusia dan alam.
Dari kearifan lokal menjadi sains
Masyarakat Cipaganti sebenarnya telah memahami hubungan tersebut sejak lama.
Mereka percaya bahwa merusak habitat kukang hanya akan merugikan manusia sendiri.
Dulu keyakinan itu diwariskan sebagai petuah leluhur.
Kini, ilmu pengetahuan menjelaskan alasannya.
Ketika pepohonan ditebang dan satwa liar menghilang, keseimbangan ekosistem ikut terganggu. Hama meningkat, kualitas tanah menurun, dan risiko longsor bertambah karena akar pepohonan yang selama ini mengikat tanah ikut hilang.
Apa yang dahulu disebut sebagai mitos, kini dipahami sebagai prinsip ekologi.
Lahirnya Wildlife Friendly Coffee
Kesadaran tersebut kemudian diperkuat melalui kolaborasi masyarakat Cipaganti dengan Little Fireface Project (LFP).
Setelah bertahun-tahun melakukan penelitian dan pendampingan, pada 2019 LFP bersama kelompok tani di Cipaganti dan Pangauban membentuk program Wildlife Friendly Coffee.
Program ini mendorong penggunaan pupuk organik, pestisida alami, pelestarian pohon penaung, larangan berburu satwa liar, serta pengelolaan kebun yang tetap ramah terhadap Kukang Jawa dan keanekaragaman hayati lainnya. Sekitar 400 petani kini terlibat dalam program tersebut.
Pada Desember 2020, kopi Cipaganti memperoleh sertifikasi internasional Wildlife Friendly®. Saat itu, sertifikasi tersebut baru dimiliki oleh sedikit proyek di dunia dan hanya segelintir program kopi yang berhasil meraihnya.
Kini kopi Cipaganti bahkan telah dipasarkan ke pasar internasional sebagai kopi spesialti yang tidak hanya menawarkan kualitas rasa, tetapi juga membawa misi konservasi.
Konservasi yang memberi nilai ekonomi
Model yang dikembangkan di Cipaganti membuktikan bahwa konservasi tidak selalu identik dengan larangan atau pembatasan.
Sebaliknya, alam yang terjaga justru meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.
Kopi yang ditanam di bawah naungan pohon menghasilkan kualitas yang lebih baik, memiliki nilai jual lebih tinggi, sekaligus menjaga habitat Kukang Jawa.
Petani memperoleh pendapatan.
Satwa memperoleh rumah.
Alam tetap lestari.
Secangkir kopi yang menyimpan harapan
Bagi Janjan dan para petani Cipaganti, kopi bukan sekadar hasil panen.
Setiap biji kopi membawa cerita tentang hutan yang tetap berdiri, tentang kukang yang masih bergelantungan di pepohonan pada malam hari, tentang kearifan leluhur yang diwariskan lintas generasi, dan tentang sebuah desa kecil di Garut yang membuktikan bahwa pembangunan ekonomi tidak harus mengorbankan alam.
Di Cipaganti, secangkir kopi bukan hanya soal aroma dan cita rasa.
Ia adalah simbol bahwa manusia dan alam dapat hidup berdampingan.
Bahwa ketika manusia menjaga kukang, sesungguhnya mereka sedang menjaga masa depan kebun kopinya sendiri. (*)
