Eksplorindonesia.com – Ketika malam turun di lereng Gunung Papandayan, kehidupan lain mulai bergerak di antara rimbun pepohonan yang menaungi kebun-kebun kopi Desa Cipaganti, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut.

Di bawah gelapnya malam, seekor Kukang Jawa perlahan berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Gerakannya tenang, nyaris tak bersuara. Pemandangan seperti ini mungkin biasa bagi warga Cipaganti, tetapi bagi para ilmuwan dunia, keberadaannya merupakan sesuatu yang sangat berharga.
Tidak banyak tempat di dunia yang masih mampu mempertahankan populasi Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) secara alami. Primata nokturnal endemik Pulau Jawa itu kini berstatus Kritis (Critically Endangered) akibat hilangnya habitat dan perdagangan satwa liar. Namun di Cipaganti, kukang masih bertahan. Bahkan desa ini berkembang menjadi salah satu lokasi penelitian Kukang Jawa paling penting di dunia.
Menariknya, keberhasilan tersebut tidak bermula dari proyek konservasi modern, melainkan dari warisan budaya yang telah hidup jauh lebih lama.
Sejak dahulu, masyarakat Cipaganti memiliki keyakinan bahwa kukang dan habitatnya tidak boleh diganggu. Para orang tua menuturkan kepada anak-anak mereka bahwa merusak tempat hidup kukang dapat mendatangkan musibah. Bentuknya beragam, mulai dari gagal panen, longsor, hingga bencana yang menimpa kampung.
Bagi masyarakat modern, keyakinan tersebut mungkin dianggap sebagai mitos. Namun justru nilai itulah yang selama ratusan tahun menjadi benteng perlindungan pertama bagi Kukang Jawa di Cipaganti. Ketika banyak kawasan lain kehilangan satwa liar akibat perburuan dan kerusakan habitat, masyarakat Cipaganti tetap mempertahankan pepohonan yang menjadi rumah kukang.
“Kami sejak kecil memang diajarkan untuk tidak mengganggu kukang,” demikian yang kerap disampaikan warga ketika menceritakan hubungan mereka dengan satwa tersebut.
Warisan itulah yang kemudian diteruskan oleh Janjan dan Dedi. Keduanya dikenal sebagai pengelola kawasan konservasi Kukang Jawa di Cipaganti. Sejak sekitar tahun 2010, mereka aktif menjaga habitat kukang bersama masyarakat setempat.
Apa yang dilakukan Janjan dan Dedi sesungguhnya bukan menciptakan sesuatu yang baru. Mereka melanjutkan nilai yang telah hidup di tengah masyarakat selama beberapa generasi. Bedanya, kini nilai tersebut diperkuat oleh ilmu pengetahuan modern.
Perubahan besar terjadi ketika para peneliti internasional mulai datang ke Cipaganti. Mereka menemukan sesuatu yang jarang ditemui di tempat lain: populasi Kukang Jawa yang masih dapat diamati secara berkelanjutan di habitat agroforestri milik masyarakat.
Keunikan tersebut menarik perhatian para ilmuwan dunia, termasuk Prof. Anna Nekaris dari Oxford Brookes University, Inggris. Melalui Little Fireface Project, Cipaganti kemudian berkembang menjadi pusat penelitian Kukang Jawa yang dikenal secara internasional.
Sejak saat itu, peneliti dari berbagai negara berdatangan. Inggris, Italia, India, Malaysia, Jepang, Belanda, Australia, dan negara-negara lainnya menjadikan Cipaganti sebagai laboratorium alam untuk mempelajari primata nokturnal tersebut.
Saat ini, seorang peneliti asal Italia bernama Leonardo tengah melakukan penelitian untuk menyelesaikan disertasi doktoralnya mengenai Kukang Jawa di Cipaganti. Kehadirannya menjadi bukti bahwa desa ini masih menjadi salah satu lokasi penelitian paling relevan di dunia.
Tidak hanya peneliti asing. Akademisi dari berbagai kampus Indonesia juga menjadikan Cipaganti sebagai lokasi penelitian. Mahasiswa dan dosen dari IPB University, Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Gadjah Mada, serta UIN Sunan Gunung Djati Bandung secara rutin melakukan penelitian di kawasan ini.
Berbagai topik telah dikaji. Mulai dari perilaku kukang, penggunaan habitat, pemilihan pohon tidur, pola jelajah, koridor tajuk buatan, hingga konservasi berbasis masyarakat. Puluhan skripsi, tesis, disertasi, dan jurnal ilmiah lahir dari Cipaganti.
Keberhasilan Cipaganti menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu harus dimulai dari kawasan hutan negara atau taman nasional. Di sini, habitat kukang justru berada di tengah kebun kopi, kebun campuran, dan sistem talun yang dikelola masyarakat.
Model inilah yang kini banyak dipelajari para peneliti. Bagaimana masyarakat mampu mempertahankan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Pada tahun 2025, perhatian dunia terhadap Cipaganti semakin besar ketika sebuah tim televisi internasional datang untuk memproduksi film dokumenter mengenai Kukang Jawa dan kehidupan masyarakat yang menjaganya. Dokumenter tersebut merekam bagaimana kearifan lokal, konservasi, dan ilmu pengetahuan dapat berjalan berdampingan dalam satu ruang yang sama.
Bagi Janjan dan Dedi, pengakuan internasional bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa kukang tetap memiliki rumah di Cipaganti. Bahwa anak-anak yang lahir hari ini masih dapat melihat satwa yang sama seperti yang pernah dilihat oleh kakek dan nenek mereka puluhan tahun lalu.
Dari sebuah desa di lereng Papandayan, Cipaganti mengajarkan satu hal penting: konservasi terbaik sering kali lahir bukan dari aturan yang rumit, melainkan dari rasa hormat kepada alam yang diwariskan secara turun-temurun. Apa yang dahulu dianggap sekadar mitos, hari ini justru menjadi fondasi bagi salah satu kisah konservasi paling inspiratif di Indonesia. (*)
