Home » Man Jasad: ‘Presiden’ Republik Gaban, Ikon Metal & Karinding

Man Jasad: ‘Presiden’ Republik Gaban, Ikon Metal & Karinding

Eksplorindonesia.com – Di antara nama-nama besar skena underground Jawa Barat, Man Jasad (Mohamad Rohman) berdiri sebagai salah satu figur yang sulit dipisahkan dari sejarah panjang musik keras Indonesia.

Ia lahir di Cimahi, namun dalam perjalanan hidupnya, Garut menjadi ruang yang membesarkan karakter dan pandangan dunianya—tempat di mana sikap, bahasa, dan energi jalanan membentuk identitas yang kemudian ia bawa ke panggung-panggung ekstrem.

Dari Garut inilah sosok Man Jasad tumbuh bukan hanya sebagai vokalis band death metal legendaris Jasad, tetapi juga sebagai bagian dari denyut komunitas yang lebih besar: skena yang tidak sekadar berbicara musik, tetapi juga identitas, solidaritas, dan budaya.

Republik Gaban hidup sebagai ruang ide, pertemuan, dan solidaritas antar pelaku skena. Dari gigs kecil, ruang komunitas, hingga panggung besar, istilah ini menjadi semacam identitas bersama yang menghubungkan Garut dan Bandung dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

Republik Gaban: Garut–Bandung dalam Satu Napas Skena

Dalam perjalanan itu, lahirlah istilah Republik Gaban (Garut–Bandung)—sebuah simbol kolektif yang tidak berbentuk organisasi formal, tetapi menjadi penanda kuat hubungan dua kota yang sama-sama menjadi poros penting musik underground di Jawa Barat.

Karena perannya yang dianggap sebagai salah satu penggerak dan representasi semangat tersebut, Man Jasad kemudian kerap dijuluki oleh komunitas sebagai “Presiden Republik Gaban.” Julukan ini tidak lahir dari struktur formal, tetapi dari pengakuan kolektif skena—bahwa ia adalah salah satu figur yang konsisten menjaga api komunitas tetap hidup.

Dari Jasad ke Karinding Attack: Perjalanan Menyebrangi Batas

Jika di Jasad ia dikenal sebagai vokalis death metal dengan vokal ekstrem dan panggung penuh energi brutal, maka di sisi lain perjalanan musiknya membuka ruang yang sama sekali berbeda melalui Karinding Attack.

Proyek ini lahir dari gagasan bahwa musik tradisi tidak harus terjebak di ruang konservasi, tetapi bisa bergerak, tumbuh, dan berdialog dengan dunia modern. Karinding—alat musik bambu tradisional Sunda—diangkat menjadi pusat eksplorasi suara yang bertemu dengan unsur musik kontemporer, termasuk rock, metal, dan eksperimentasi suara.

Di Karinding Attack, Man Jasad bukan satu-satunya penggerak. Ia bersama beberapa figur penting skena lain membangun fondasi proyek ini sejak awal, termasuk Kimung (eks Burgerkill), yang juga dikenal sebagai salah satu inisiator dan penggerak penting dalam perkembangan awal band ini. Kehadiran Kimung memberi warna tersendiri, terutama dalam perspektif komunitas dan pengalaman panjangnya di skena metal Indonesia.

Bersama mereka, Karinding Attack berkembang menjadi lebih dari sekadar proyek musik—ia menjadi gerakan budaya yang mencoba menjembatani tradisi Sunda dengan energi modern.

Kimung dan Peran Skena dalam Karinding Attack

Nama Kimung, yang dikenal sebagai eks personil Burgerkill, membawa dimensi lain dalam Karinding Attack. Ia bukan hanya musisi, tetapi juga bagian dari sejarah panjang Ujungberung dan perkembangan metal Indonesia.

Di Karinding Attack, Kimung berperan sebagai salah satu inisiator awal yang membantu membentuk arah ideologis proyek ini. Ia melihat potensi karinding bukan hanya sebagai instrumen tradisi, tetapi sebagai simbol perlawanan budaya—bahwa akar lokal bisa berdiri sejajar dengan arus musik global tanpa kehilangan identitas.

Keterlibatan Kimung bersama Man Jasad menunjukkan satu hal penting: bahwa batas antara metal dan tradisi bukanlah tembok, melainkan jembatan yang bisa dilalui dua arah.

Dua Dunia, Satu Akar

Perjalanan Man Jasad memperlihatkan paradoks yang menarik. Di satu sisi, ia adalah vokalis death metal yang identik dengan suara ekstrem, distorsi, dan energi liar. Di sisi lain, ia adalah bagian dari gerakan yang menghidupkan kembali instrumen tradisi Sunda dalam format yang relevan dengan generasi sekarang.

Namun bagi banyak orang di skena, dua dunia itu tidak pernah bertentangan. Justru di situlah kekuatan Man Jasad: mampu berdiri di dua ruang yang berbeda tanpa kehilangan akar yang sama.

Dari panggung Jasad hingga panggung Karinding Attack, dari Garut hingga Bandung, dari Republik Gaban hingga ruang-ruang budaya, ia terus membawa satu benang merah: bahwa musik bukan hanya soal suara, tetapi juga soal identitas, perlawanan, dan cara bertahan sebagai komunitas.

Hari ini, nama Man Jasad tidak hanya melekat pada sejarah death metal Indonesia, tetapi juga pada upaya menjaga dan merawat budaya lokal melalui pendekatan yang tidak biasa.

Bersama Republik Gaban dan Karinding Attack, serta kolaborasi dengan figur seperti Kimung, ia menjadi bagian dari narasi besar skena Jawa Barat—sebuah cerita tentang bagaimana tradisi dan ekstremitas bisa berjalan berdampingan, tanpa saling menghapus satu sama lain. (*)

Diolah dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *