Eksplorindonesia.com – Tidak semua desa memiliki kesempatan untuk mengubah sejarah. Namun, Desa Cipaganti, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, telah membuktikan bahwa sebuah kampung kecil di lereng Gunung Papandayan mampu menarik perhatian ilmuwan dari berbagai belahan dunia. Selama lebih dari satu dekade, desa ini menjadi rumah bagi penelitian jangka panjang mengenai Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), primata endemik Pulau Jawa yang berstatus Kritis menurut IUCN Red List.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Cipaganti penting bagi konservasi.
Pertanyaan yang lebih besar adalah:
Ke mana Cipaganti akan melangkah selanjutnya?
Sebuah modal yang tidak dimiliki banyak daerah
Banyak daerah memiliki hutan.
Banyak daerah memiliki kopi.
Banyak daerah memiliki satwa liar.
Namun sangat sedikit yang memiliki seluruh unsur berikut dalam satu tempat:
- habitat alami Kukang Jawa yang masih bertahan;
- masyarakat dengan kearifan lokal yang menjaga satwa;
- sistem agroforestri atau talun yang masih lestari;
- sejarah kopi yang telah berlangsung sejak abad ke-19;
- jejaring penelitian internasional yang berkelanjutan;
- kolaborasi antara masyarakat, akademisi, dan organisasi konservasi.
Modal inilah yang membuat Cipaganti memiliki posisi yang sangat strategis.
Bukan hanya sebagai lokasi konservasi.
Tetapi juga sebagai pusat pembelajaran.
Kampus tanpa dinding
Selama ini, Cipaganti telah menjadi ruang belajar bagi mahasiswa dari IPB University, Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Pendidikan Indonesia, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, serta berbagai perguruan tinggi luar negeri.
Namun potensi tersebut sesungguhnya dapat dikembangkan lebih jauh.
Bayangkan apabila di Cipaganti tersedia sebuah Pusat Pembelajaran Konservasi Kukang Jawa.
Sebuah tempat yang menjadi laboratorium lapangan permanen.
Di sana, mahasiswa dapat belajar tentang primatologi, ekologi, agroforestri, konservasi berbasis masyarakat, hingga pengelolaan kopi ramah satwa liar.
Belajar tidak hanya di ruang kelas.
Tetapi langsung di habitat aslinya.
Museum hidup tentang Kukang Jawa
Indonesia memiliki banyak museum.
Namun belum ada museum yang secara khusus menceritakan perjalanan konservasi Kukang Jawa.
Cipaganti memiliki peluang untuk membangun pusat interpretasi atau museum hidup yang memuat:
- sejarah Kukang Jawa;
- evolusi primata nokturnal;
- perjalanan Little Fireface Project;
- kisah Janjan, Dedi, dan masyarakat Cipaganti;
- hasil-hasil penelitian ilmiah;
- sejarah kopi dan sistem talun.
Tempat seperti ini bukan sekadar ruang pamer.
Melainkan pusat edukasi bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, hingga wisatawan.
Destinasi ekowisata ilmiah
Berbeda dengan wisata massal, ekowisata ilmiah menempatkan pendidikan sebagai tujuan utama.
Pengunjung tidak datang untuk mengejar hiburan.
Mereka datang untuk belajar.
Di Cipaganti, kegiatan seperti pengenalan agroforestri, wisata kopi, pengamatan burung, interpretasi lanskap, hingga pengamatan satwa nokturnal secara terbatas dan beretika dapat dikembangkan dengan tetap mengutamakan kesejahteraan satwa.
Model seperti ini telah berhasil diterapkan di berbagai negara dan dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat tanpa mengorbankan habitat.
Kopi sebagai duta konservasi
Kopi Cipaganti telah menunjukkan bahwa produk pertanian dapat menjadi alat konservasi.
Ke depan, setiap kemasan kopi tidak hanya menjual cita rasa.
Ia juga dapat membawa cerita.
Tentang Kukang Jawa.
Tentang masyarakat yang menjaganya.
Tentang penelitian internasional yang lahir dari desa ini.
Tentang filosofi Sunda yang menghormati alam.
Nilai cerita inilah yang menjadikan sebuah produk memiliki identitas dan daya saing di pasar global.
Generasi penerus
Konservasi tidak akan bertahan apabila hanya bergantung pada satu atau dua tokoh.
Karena itu, tantangan terbesar Cipaganti adalah menyiapkan generasi penerus.
Anak-anak desa perlu tumbuh dengan kebanggaan bahwa kampung mereka dikenal dunia.
Mereka perlu memahami bahwa menjaga hutan sama pentingnya dengan menjaga masa depan keluarga.
Melalui pendidikan lingkungan, pelatihan lapangan, dan keterlibatan dalam kegiatan penelitian, generasi muda dapat menjadi penjaga baru bagi Cipaganti.
Kolaborasi yang harus terus diperkuat
Keberhasilan Cipaganti selama ini lahir dari kolaborasi.
Masyarakat.
Little Fireface Project.
Perguruan tinggi.
Peneliti.
Kelompok tani.
Pemerintah.
Ke depan, kolaborasi tersebut dapat diperluas dengan melibatkan lebih banyak lembaga penelitian, sekolah, komunitas konservasi, sektor swasta yang berkomitmen pada keberlanjutan, serta pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
Semakin kuat jejaring tersebut, semakin besar pula peluang Cipaganti menjadi rujukan konservasi di tingkat nasional maupun internasional.
Sebuah cita-cita untuk Indonesia
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia.
Namun keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari luas kawasan yang dilindungi.
Keberhasilan juga diukur dari kemampuan masyarakat menjaga alamnya.
Cipaganti telah memperlihatkan bahwa masyarakat dapat menjadi pelaku utama konservasi.
Bahwa ilmu pengetahuan dapat tumbuh bersama budaya.
Bahwa pertanian dapat berjalan seiring dengan pelestarian satwa liar.
Model seperti inilah yang layak direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia.
Warisan yang tidak boleh hilang
Pada akhirnya, seluruh kisah Cipaganti bermuara pada satu hal.
Warisan.
Warisan berupa hutan kecil yang tetap berdiri.
Warisan berupa kebun kopi yang tetap teduh.
Warisan berupa Kukang Jawa yang masih bergelantungan di antara pepohonan.
Warisan berupa nilai-nilai leluhur yang mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam.
Janjan dan Dedi telah menjaganya.
Little Fireface Project telah memperkuatnya melalui penelitian dan pendidikan.
Para ilmuwan dari berbagai negara telah mendokumentasikannya.
Kini, tugas berikutnya berada di tangan generasi penerus.
Mereka bukan hanya mewarisi sebuah desa.
Mereka mewarisi sebuah tanggung jawab.
Menjaga Cipaganti agar tetap menjadi rumah bagi Kukang Jawa.
Menjaga kopi agar tetap tumbuh di bawah naungan pepohonan.
Menjaga talun agar tetap menjadi benteng kehidupan.
Dan menjaga agar dunia terus belajar dari sebuah desa kecil di lereng Gunung Papandayan.
Karena sesungguhnya, kekuatan terbesar Cipaganti bukan terletak pada luas wilayahnya.
Melainkan pada kesadaran masyarakatnya bahwa manusia hanyalah bagian dari alam, bukan penguasanya.
Itulah pelajaran paling berharga yang diberikan Cipaganti kepada Indonesia dan kepada dunia. (*)
Atribusi: Artikel ini merupakan penutup serial feature “Cipaganti: Kampung Kukang Jawa yang Menginspirasi Dunia”. Disusun berdasarkan informasi lapangan dari Janjan dan Dedi selaku pengelola kawasan konservasi Kukang Jawa di Desa Cipaganti, berbagai publikasi ilmiah Little Fireface Project, karya-karya Prof. K. Anne Isola Nekaris beserta kolaboratornya, hasil penelitian akademisi dari berbagai perguruan tinggi Indonesia dan mancanegara, serta kajian mengenai agroforestri, konservasi berbasis masyarakat, dan kopi ramah satwa liar.
