Kukang Jawa: Primata Berbisa yang Menjadi Penjaga Malam Lereng Papandayan

Eksplorindonesia.com – Di balik rimbunnya pepohonan dan kebun kopi Desa Cipaganti, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, kehidupan baru dimulai ketika matahari tenggelam.

Saat sebagian besar satwa diurnal beristirahat, seekor primata kecil perlahan keluar dari tempat tidurnya. Gerakannya sangat pelan. Hampir tanpa suara. Dengan kedua matanya yang besar, ia mengamati setiap cabang pohon sebelum melangkah hati-hati menuju pucuk-pucuk tempat bunga bermekaran.

Dialah Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), salah satu primata paling unik di dunia.

Tidak hanya karena aktif pada malam hari, tetapi juga karena menjadi satu-satunya primata berbisa (venomous primate) yang diketahui oleh ilmu pengetahuan.

Di Cipaganti, satwa ini bukan sekadar penghuni hutan. Ia adalah bagian dari kehidupan masyarakat dan simbol keberhasilan konservasi berbasis kearifan lokal.

Primata yang hanya ada di Pulau Jawa

Kukang Jawa merupakan satwa endemik Pulau Jawa. Artinya, spesies ini tidak ditemukan secara alami di tempat lain di dunia.

Dahulu, penyebarannya mencakup berbagai kawasan berhutan di Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Namun seiring berkurangnya tutupan hutan dan maraknya perdagangan satwa liar, populasinya terus menurun.

Karena ancaman tersebut, International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan Kukang Jawa sebagai satwa berstatus Critically Endangered (Kritis), satu tingkat di bawah kepunahan di alam liar.

Selain itu, Kukang Jawa juga dilindungi oleh peraturan perundang-undangan di Indonesia dan masuk dalam Appendix I CITES, sehingga perdagangan internasional spesies ini dilarang kecuali untuk tujuan yang sangat terbatas seperti penelitian.

Mengapa disebut primata berbisa?

Banyak orang mengira kukang tidak berbahaya karena wajahnya terlihat lucu dan gerakannya lambat.

Faktanya justru sebaliknya.

Pada bagian dalam siku lengannya terdapat kelenjar brakial (brachial gland) yang menghasilkan cairan khusus.

Ketika merasa terancam, kukang akan menjilat cairan tersebut hingga bercampur dengan air liurnya. Campuran inilah yang kemudian menjadi bisa ketika ia menggigit.

Pada satwa lain maupun manusia, gigitan tersebut dapat menyebabkan nyeri hebat, pembengkakan, infeksi, bahkan pada sebagian orang dapat memicu reaksi alergi berat (anafilaksis).

Para ilmuwan meyakini bisa ini berfungsi sebagai mekanisme pertahanan terhadap predator dan juga berperan dalam interaksi antarindividu.

Mengapa gerakannya sangat lambat?

Nama “slow loris” dalam bahasa Inggris memang berarti kukang yang bergerak lambat.

Namun, kelambatan itu bukan karena lemah.

Justru sebaliknya.

Gerakan perlahan membuat kukang hampir tidak menimbulkan suara maupun getaran pada ranting.

Strategi ini membantu mereka menghindari predator dan mendekati sumber makanan tanpa menarik perhatian.

Di malam hari, mereka mengandalkan penglihatan yang sangat baik serta penciuman yang tajam untuk mencari makanan.

Menu makan yang beragam

Kukang Jawa termasuk satwa omnivora.

Makanan utamanya meliputi:

  • getah pohon;
  • nektar bunga;
  • buah-buahan;
  • serangga;
  • laba-laba;
  • ulat;
  • belalang;
  • siput;
  • telur burung kecil.

Di Cipaganti, para peneliti sering mengamati kukang memanfaatkan berbagai pohon berbunga dan tanaman yang menghasilkan getah.

Keanekaragaman vegetasi di sistem agroforestri menjadi salah satu alasan mengapa kawasan ini mampu mendukung populasi Kukang Jawa.

Penjaga keseimbangan ekosistem

Walaupun bertubuh kecil, Kukang Jawa memiliki peran ekologis yang besar.

Ketika memakan serangga, kukang membantu mengendalikan populasi hama secara alami.

Saat berpindah dari satu bunga ke bunga lainnya untuk mencari nektar, ia juga berkontribusi terhadap proses penyerbukan pada beberapa jenis tumbuhan.

Aktivitas tersebut menjadi bagian dari jasa ekosistem, yaitu manfaat yang diberikan satwa liar bagi keseimbangan alam dan pertanian.

Di Cipaganti, keberadaan kukang menjadi salah satu alasan mengapa sistem kebun kopi ramah satwa terus dipertahankan.

Satwa yang setia pada rumahnya

Berbeda dengan banyak primata lain yang hidup dalam kelompok besar, Kukang Jawa cenderung hidup soliter atau dalam kelompok keluarga kecil.

Mereka memiliki wilayah jelajah tertentu yang digunakan secara berulang.

Karena itu, ketika pohon-pohon ditebang atau koridor tajuk terputus, kukang sering kesulitan berpindah.

Di beberapa lokasi penelitian, termasuk Cipaganti, para peneliti bersama masyarakat membangun jembatan kanopi (canopy bridge) untuk menghubungkan pepohonan yang terpisah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kukang memanfaatkan struktur tersebut sehingga tidak perlu turun ke tanah yang lebih berisiko.

Ancaman terbesar

Ironisnya, ancaman utama Kukang Jawa justru berasal dari manusia.

Perdagangan satwa liar masih menjadi persoalan serius.

Banyak kukang diperjualbelikan sebagai satwa peliharaan setelah giginya dipotong agar dianggap tidak berbahaya. Tindakan tersebut menyebabkan luka permanen, infeksi, dan sering kali berujung pada kematian karena kukang tidak lagi mampu mencari makan secara alami.

Selain itu, alih fungsi hutan menjadi permukiman atau lahan pertanian monokultur juga mempersempit habitatnya.

Karena itulah, model agroforestri seperti yang dipertahankan masyarakat Cipaganti menjadi sangat penting dalam menjaga keberlangsungan spesies ini.

Cipaganti dan harapan bagi Kukang Jawa

Selama lebih dari satu dekade, Desa Cipaganti menjadi lokasi penelitian jangka panjang yang dikelola bersama Little Fireface Project, masyarakat lokal, dan berbagai perguruan tinggi.

Di tempat ini, para ilmuwan tidak hanya mempelajari Kukang Jawa.

Mereka juga belajar bagaimana masyarakat mampu hidup berdampingan dengan satwa liar.

Janjan dan Dedi, bersama warga Cipaganti, membuktikan bahwa konservasi tidak selalu membutuhkan pagar tinggi atau kawasan tertutup.

Konservasi dapat tumbuh di kebun kopi.

Di pekarangan.

Di antara pepohonan yang tetap dipertahankan.

Dan yang terpenting, di dalam kesadaran masyarakat bahwa alam adalah warisan yang harus dijaga.

Penjaga malam yang harus tetap lestari

Mungkin banyak orang tidak pernah melihat Kukang Jawa secara langsung.

Satwa ini memang pemalu.

Ia lebih senang beraktivitas dalam gelap, jauh dari keramaian manusia.

Namun keberadaannya menjadi penanda bahwa sebuah ekosistem masih bekerja dengan baik.

Selama Kukang Jawa masih bergelantungan di pepohonan Cipaganti, selama masyarakat masih menjaga hutan dan kebun mereka, selama ilmu pengetahuan dan kearifan lokal terus berjalan berdampingan, harapan bagi spesies ini akan tetap menyala.

Di lereng Papandayan, ketika malam tiba dan kabut mulai turun, sang penjaga malam kembali memulai perjalanannya.

Hening.

Pelan.

Namun keberadaannya menyampaikan pesan yang sangat kuat: alam hanya akan bertahan jika manusia memilih untuk menjaganya. (*)

Atribusi: Artikel ini disusun berdasarkan informasi lapangan dari pengelola kawasan konservasi Kukang Jawa di Desa Cipaganti, publikasi ilmiah mengenai Nycticebus javanicus, data IUCN Red List, CITES, serta berbagai hasil penelitian Little Fireface Project mengenai biologi dan konservasi Kukang Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *