EksplorIndonesia.com – Di antara kerajaan-kerajaan besar Nusantara, nama Kerajaan Sunda Pajajaran memiliki tempat yang sangat khas. Ia tidak selalu digambarkan sebagai kerajaan penakluk besar seperti Majapahit, tidak pula identik dengan ekspansi maritim seperti Sriwijaya. Namun bagi masyarakat Sunda, Pajajaran bukan sekadar bagian dari sejarah. Ia hidup sebagai identitas, ingatan kolektif, bahkan simbol kejayaan masa lalu.
Nama Pajajaran masih terasa hingga hari ini. Dari jalan, universitas, stadion, hingga cerita rakyat, jejaknya terus hadir dalam kehidupan masyarakat Jawa Barat. Tetapi menariknya, semakin populer nama Pajajaran, semakin banyak pula bagian sejarahnya yang bercampur antara fakta, legenda, dan romantisme.
Kerajaan Sunda Pajajaran pada dasarnya adalah kelanjutan dari kerajaan Sunda yang telah ada sejak berabad-abad sebelumnya di wilayah barat Pulau Jawa. Pusat kekuasaannya diyakini berada di kawasan yang kini menjadi Bogor. Nama “Pakuan Pajajaran” sendiri sering dikaitkan dengan ibu kota kerajaan tersebut.
Dalam catatan sejarah, kerajaan Sunda sudah dikenal sejak masa awal Nusantara Hindu-Buddha. Salah satu kerajaan tertuanya adalah Tarumanegara sekitar abad ke-5 Masehi. Setelah Tarumanegara melemah, wilayah Jawa Barat kemudian berkembang menjadi kerajaan Sunda yang dalam perjalanan sejarahnya melahirkan Pajajaran.
Yang menarik, karakter kerajaan Sunda berbeda dibanding banyak kerajaan besar lain di Jawa.
Jika kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti Mataram Kuno, Singasari, atau Majapahit dikenal sangat ekspansif dan berorientasi pada penaklukan politik, kerajaan Sunda cenderung berkembang lebih stabil dan defensif. Pajajaran tidak terlalu dikenal karena ambisi menaklukkan Nusantara, tetapi lebih sebagai kerajaan agraris yang kuat secara budaya dan ekonomi.
Wilayah Sunda saat itu memiliki tanah yang subur, jalur perdagangan yang hidup, serta hubungan dengan pelabuhan-pelabuhan penting di pesisir utara Jawa. Komoditas seperti lada menjadi salah satu sumber ekonomi penting kerajaan Sunda dan membuat wilayah ini terhubung dengan perdagangan internasional.
Hubungan Sunda dengan dunia luar sebenarnya sudah berlangsung lama. Pedagang dari India, Tiongkok, Arab, hingga Eropa pernah singgah di wilayah pesisir kerajaan Sunda. Bahkan ketika bangsa Portugis mulai datang ke Nusantara pada abad ke-16, kerajaan Sunda sempat menjalin hubungan diplomatik dengan mereka.
Salah satu bukti paling terkenal adalah Perjanjian Sunda-Portugis tahun 1522. Dalam perjanjian itu, Portugis dan kerajaan Sunda sepakat bekerja sama, terutama untuk menghadapi kekuatan Islam yang mulai berkembang di Jawa. Sebagai tanda kerja sama, Portugis mendirikan prasasti yang kini dikenal sebagai Prasasti Padrao Sunda Kelapa.
Namun kerja sama itu tidak pernah benar-benar berjalan mulus.
Pada masa itu, situasi politik di Jawa sedang berubah besar. Kerajaan-kerajaan Islam mulai tumbuh di wilayah pesisir, termasuk Kesultanan Demak dan Cirebon. Pengaruh kerajaan Hindu-Buddha perlahan mulai melemah.
Salah satu titik penting dalam sejarah Pajajaran adalah jatuhnya Sunda Kelapa pada tahun 1527 oleh pasukan Fatahillah yang berafiliasi dengan Demak dan Cirebon. Kota pelabuhan itu kemudian berganti nama menjadi Jayakarta, yang kelak berkembang menjadi Jakarta.
Peristiwa itu bukan hanya perubahan nama kota. Ia menandai pergeseran besar kekuasaan di Jawa.
Meski begitu, Pajajaran tidak langsung runtuh. Kerajaan ini masih bertahan cukup lama di pedalaman Jawa Barat. Dalam ingatan masyarakat Sunda, masa pemerintahan Prabu Siliwangi sering dianggap sebagai era kejayaan.
Nama Prabu Siliwangi sendiri sangat terkenal dalam budaya Sunda. Namun menariknya, sosok ini berada di wilayah yang cukup rumit antara sejarah dan legenda. Banyak cerita rakyat menggambarkannya sebagai raja bijaksana, sakti, dekat dengan rakyat, dan menjadi simbol ideal kepemimpinan Sunda.
Sebagian sejarawan mengaitkan Prabu Siliwangi dengan Sri Baduga Maharaja, raja besar Pajajaran yang memerintah pada akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16. Pada masa pemerintahannya, Pajajaran disebut mengalami stabilitas politik dan perkembangan ekonomi yang cukup baik.
Namun seperti banyak kerajaan Nusantara lainnya, sejarah Pajajaran tidak seluruhnya tercatat secara lengkap. Sebagian besar sumber berasal dari prasasti, naskah kuno, catatan asing, dan tradisi lisan masyarakat Sunda. Karena itu, banyak bagian sejarahnya masih menjadi perdebatan.
Yang jelas, runtuhnya Pajajaran terjadi secara bertahap seiring berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa Barat dan melemahnya kekuatan politik kerajaan Sunda di pedalaman. Sekitar akhir abad ke-16, kekuasaan Pajajaran praktis berakhir.
Meski kerajaannya runtuh, identitas budaya Sunda tetap bertahan sangat kuat.
Berbeda dengan beberapa wilayah lain yang mengalami perubahan budaya besar akibat pergantian kekuasaan, masyarakat Sunda tetap mempertahankan banyak unsur budayanya hingga hari ini—bahasa, kesenian, tradisi, hingga pola sosialnya.
Mungkin karena itulah Pajajaran tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan kolektif masyarakat Sunda.
Nama Pajajaran kemudian berkembang bukan hanya sebagai simbol sejarah, tetapi juga simbol romantisme masa lalu. Banyak orang Sunda memandang Pajajaran sebagai representasi kejayaan, kearifan, dan identitas budaya mereka.
Di sisi lain, romantisme itu kadang membuat sejarah Pajajaran bercampur dengan mitos. Cerita tentang Prabu Siliwangi yang moksa, harimau jadi-jadian, hingga kisah-kisah spiritual lain berkembang luas di masyarakat.
Namun justru di situlah menariknya sejarah Nusantara.
Berbeda dengan tradisi sejarah modern Barat yang sangat bergantung pada arsip tertulis, sejarah di Nusantara sering hidup dalam cerita rakyat, simbol budaya, dan ingatan masyarakat. Fakta sejarah dan nilai budaya berjalan berdampingan.
Karena itu memahami Pajajaran tidak cukup hanya melihat daftar raja atau tahun runtuhnya kerajaan. Pajajaran perlu dipahami sebagai bagian dari perjalanan panjang peradaban Sunda.
Ia adalah gambaran tentang bagaimana masyarakat Sunda pernah membangun pusat kekuasaan, mengelola perdagangan, menjaga budaya, dan bertahan di tengah perubahan besar Nusantara.
Dan mungkin alasan kenapa nama Pajajaran masih terus hidup hingga sekarang adalah karena bagi banyak orang Sunda, kerajaan itu bukan sekadar masa lalu.
Ia adalah bagian dari jati diri.(*)
